Dadan Hindayana Klarifikasi, 19.000 Sapi per Hari Ternyata Cuma Pengandaian

photo author
Judirho Aho, Pontianak Globe
- Sabtu, 25 April 2026 | 13:48 WIB
Kepala BGN Dadan Hindayana klarifikasi tentang 19.000 ekor sapi per hari untuk MBG. (Dok. BGN)
Kepala BGN Dadan Hindayana klarifikasi tentang 19.000 ekor sapi per hari untuk MBG. (Dok. BGN)

PONTIANAKGLOBE.COM, JAKARTA -- Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana memberikan klarifikasi terkait pernyataannya soal kebutuhan sapi dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Ia sebelumnya menyebut bahwa pelaksanaan menu daging sapi secara serentak dapat membutuhkan hingga 19.000 ekor sapi per hari. Namun, Dadan menegaskan bahwa angka tersebut bukan kondisi nyata, melainkan sekadar pengandaian berdasarkan perhitungan jumlah dapur Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG).

Baca Juga: Syekh Ahmad Al Misry Buka Suara! Bantah Semua Tuduhan Berat yang Menyeret Namanya

Dadan menjelaskan bahwa asumsi tersebut muncul jika seluruh SPPG di Indonesia memasak daging sapi pada hari yang sama. Dalam perhitungannya, satu dapur membutuhkan sekitar satu ekor sapi untuk sekali memasak.

“Ini hanya pengandaian. Jadi, satu SPPG, kalau dia masak daging sapi maka dia butuh satu ekor, kalau misalnya SPPG hari ini mau masak daging sapi,” kata Dadan dikutip dari keterangannya kepada awak media pada Kamis, 23 April 2026.

“Kalau seluruh SPPG kita perintahkan nanti tanggal sekian kita mau masak sapi, itu tinggal dijumlahkan berapa jumlah SPPG kalikan satu ekor sapi,” jelasnya.

Ia menambahkan, kebutuhan daging sapi untuk satu kali proses memasak di satu dapur berkisar antara 350 hingga 382 kilogram, setara dengan satu ekor sapi untuk bagian dagingnya saja.

“Menunya itu ada telur, ada ayam, ada sapi, ada ikan. Misalnya, kalau ini masak daging sapi, maka butuh 350 kilogram sekali masaknya berarti satu ekor sapi. Ini lah pentingnya makan bergizi agar tangkapan rasionya bagus. Jadi, satu kali masak daging sapi butuh 382 (kg), itu artinya satu ekor sapi, dagingnya saja,” lanjutnya.

Meski program MBG telah berjalan di seluruh provinsi, Dadan mengakui bahwa pihaknya belum pernah menetapkan menu seragam secara nasional. Hal ini untuk menghindari lonjakan harga bahan pangan akibat peningkatan permintaan secara bersamaan.

Ia mencontohkan peristiwa saat peringatan ulang tahun Presiden Prabowo Subianto pada 17 Oktober lalu, ketika menu nasi goreng dan telur disajikan kepada sekitar 36 juta penerima manfaat. Kebutuhan mencapai 36 juta butir telur atau sekitar 2.200 ton, yang berdampak pada kenaikan harga telur hingga Rp3.000 di pasaran.

“Hari itu butuh 36 juta butir telur atau sekitar 2.200 ton, dampaknya harga telur sempat naik Rp3.000,” jelasnya.

Baca Juga: Aksi Nyeleneh Masak Mie di Kereta, KAI Langsung Tegur

Karena itu, menu MBG disesuaikan dengan potensi sumber daya dan kebiasaan konsumsi masyarakat di masing-masing daerah agar tidak menimbulkan tekanan tinggi pada pasar.

“Karena kita ingin memberdayakan potensi sumber daya lokal dan juga kesukaan masyarakat lokal, supaya juga tekanan terhadap konsumsinya tidak terlalu tinggi. Jadi, kalau kita perintahkan menu nasional, pasti tekanannya tinggi, pasti harga naik,” paparnya.

Sebelumnya, dalam sidang kabinet paripurna di Istana Negara pada 15 Desember 2025, Dadan melaporkan kepada Presiden bahwa terdapat sekitar 19.000 dapur SPPG yang beroperasi. Dari situlah muncul perhitungan kebutuhan 19.000 ekor sapi jika seluruh dapur memasak daging secara bersamaan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Judirho Aho

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X