BBM Pontianak Diserbu Warga Akibat Panic Buying, Salah Komunikasi Jadi Pemicu?

photo author
Judirho Aho, Pontianak Globe
- Sabtu, 21 Maret 2026 | 23:18 WIB
Foto: Ratusan Warga memadati salah satu SPBU Sungai Ambawang untuk antri BBM akibat Panic Buying. (Dok. Judirho )
Foto: Ratusan Warga memadati salah satu SPBU Sungai Ambawang untuk antri BBM akibat Panic Buying. (Dok. Judirho )

"Stok BBM kita itu sekitar 20 hari. Tapi ini bukan berarti akan habis, karena sistemnya seperti toren—terus diisi,” ungkapnya.

Ia juga memastikan bahwa cadangan nasional masih berada dalam kondisi aman.

"Standar minimal ketersediaan kita itu harus di atas 20 hari. Sekarang minyak kita 23 hari. Jadi itu artinya kondisi kita aman. Tidak perlu panic buying," tambahnya.

Namun, dalam praktiknya, kesan awal sering kali lebih kuat dibanding klarifikasi yang datang belakangan. Kepanikan yang sudah terlanjur menyebar sulit untuk sepenuhnya diredam.

Pemerintah daerah pun mencoba meredakan situasi. Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, memastikan bahwa stok BBM di daerahnya tetap aman.

“Kami ingin memastikan bahwa stok BBM di Kota Pontianak ini aman dan tersedia. Antrean panjang ini bukan karena kelangkaan, tapi gangguan distribusi dan panic buying," ujarnya.

Namun di lapangan, lonjakan permintaan yang tiba-tiba membuat sejumlah SPBU kewalahan. Stok cepat terkuras, sementara pasokan berikutnya tidak selalu datang tepat waktu, sehingga memperkuat persepsi kelangkaan.

Dampaknya terasa lebih berat di wilayah penyangga seperti Kubu Raya, yang memiliki keterbatasan SPBU. Kondisi ini membuka celah bagi praktik penimbunan dan potensi penjualan dengan harga lebih tinggi.

Anggota DPRD Kalbar, Yandi, menekankan pentingnya pengawasan distribusi hingga ke tingkat daerah.

Baca Juga: Tanpa Vidi Aldiano, Lebaran Keluarga Terasa Berbeda

“Permintaan meningkat karena warga berbondong-bondong membeli. Distribusi harus dicek sampai ke daerah. Pastikan di lapangan tidak terjadi kelangkaan," tutur Yandi.

Situasi ini menunjukkan bahwa yang terjadi bukan sekadar persoalan energi, melainkan krisis komunikasi yang berujung pada krisis kepercayaan.

Ketika informasi disampaikan tanpa konteks utuh, ruang kosong itu diisi oleh kekhawatiran. Dalam kondisi seperti ini, yang bergerak paling cepat bukanlah distribusi BBM, melainkan kepanikan masyarakat itu sendiri.***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Judirho Aho

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X