MBG Telat Datang, Guru Harus Tahan Siswa Pulang

photo author
Judirho Aho, Pontianak Globe
- Senin, 16 Maret 2026 | 15:59 WIB
Guru di Semarang curhat soal tugas tambahan guru saat SPPG datang untuk bagikan MBG. (Dok. Instagram/stevano.96)
Guru di Semarang curhat soal tugas tambahan guru saat SPPG datang untuk bagikan MBG. (Dok. Instagram/stevano.96)

PONTIANAKGLOBE.COM, SEMARANG -- Keluhan mengenai pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali ramai di media sosial. Kali ini datang dari seorang konten kreator sekaligus guru di Semarang, David Stevano.

Melalui unggahan video di akun Instagram pribadinya @stevano.96 pada Minggu (15/3/2026), David menyampaikan bahwa guru di sekolah kerap harus menanggung beban tambahan saat proses pembagian MBG kepada para siswa.

“Dikira guru nggak kerepotan? Udah nggak dapat upah SPPG, nambah lagi bebannya,” tulisnya dalam unggahan video berdurasi sekitar 1 menit 5 detik tersebut.

Baca Juga: ICCN Resmi Luncurkan Buku Digital Retrospektif Kota Kreatif

Curhatan itu muncul ketika ia menanggapi berbagai unggahan wali murid yang sebelumnya memprotes keterlambatan distribusi makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

David mengaku sekolahnya juga pernah mengalami situasi serupa ketika makanan MBG datang terlambat. Dalam kondisi tersebut, guru harus ikut terlibat langsung dalam proses distribusi makanan kepada siswa.

“Kasus SPPG yang kayak gini pernah ngerasain. Jadi, yang namanya relawan sesungguhnya itu guru karena kita nerima MBG-nya, bagiin, ngumpulin kantongnya itu nggak dibayar dari SPPG-nya,” ucapnya dalam video.

Ia menjelaskan keterlambatan distribusi kadang membuat siswa yang sudah bersiap pulang harus kembali menunggu di sekolah hingga pembagian makanan selesai.

“Belum lagi kalau telat, anak-anak udah mau keluar dari gerbang, kita hold dulu untuk nunggu pembagian lengkap dari SPPG. Dulu pernah kayak gitu,” lanjutnya.

Selain membantu pembagian makanan, guru juga disebut harus mengurus berbagai hal setelah siswa selesai makan. Hal ini membuat guru tidak bisa langsung pulang setelah kegiatan belajar selesai.

“Siswa pulang yang harusnya guru juga pulang, enggak bisa. Kita ngitung ompreng, ngumpulin kantong, bersih-bersih,” ujarnya.

Menurut David, persoalan lain yang sering muncul adalah pengelolaan sisa makanan MBG yang tidak bisa dibiarkan terlalu lama di lingkungan sekolah.

“Belum lagi sisa MBG mau dikemanakan? Kalau nggak dikemanain nanti busuk, mikir lagi, PR lagi,” katanya.

Ia kemudian menyarankan agar pihak SPPG menambah tenaga kerja apabila memang kekurangan sumber daya manusia agar distribusi makanan bisa berjalan lebih cepat.

“Ayolah, tanggung jawab. Kalau memang kurang SDM-nya, tambahin. Jadi, biar gercep karena kita juga merasa punya beban tambahan yang nggak dibayar,” tegasnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Judirho Aho

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X