PONTIANAKGLOBE.COM, JAKARTA -- Dokter Tifauzia Tyassuma atau dokter Tifa mengungkapkan pendekatan matematis yang ia gunakan dalam meneliti polemik ijazah Presiden Joko Widodo (Jokowi). Ia menyebut, analisis tersebut berangkat dari latar belakang keilmuannya sebagai epidemiolog.
Dokter Tifa menjelaskan bahwa epidemiologi erat kaitannya dengan matematika dalam membaca prediksi, probabilitas, prognosis, hingga ketepatan diagnosis.
“Saya itu basicnya kan seorang epidemiologist, seorang ahli epidemiologi, yaitu matematikanya kedokteran. Jadi, tugas mengukur prediksi, probability, prrognosis, ketepatan diagnosis dan sebagainya, itu menggunakan matematika,” ucap dokter Tifa dalam podcast di kanal YouTube Bambang Widjojanto, Kamis (8/1/2026).
Baca Juga: Pandji Pragiwaksono dan Seni Mengkritik Tanpa Tersandung Hukum
“Jadi, apapun itu saya lihat sebagai bilangan matematika,” lanjutnya.
Ia kemudian menyinggung analisis yang ia lakukan terhadap foto-foto Jokowi yang beredar di media sosial X, yang menurutnya menjadi salah satu alasan dirinya dilaporkan ke polisi.
“Itu juga yang membuat saya dilaporkan ke polisi karena pada tanggal 4 Mei atau berapa itu saya diundang di Rakyat Bersuara. Di situ saya presentasi bagaimana mengkomparasi foto, ini masih dalam konteks ilmu anatomi, ilmu fisiologi, ilmu behaviour yang merupakan kompetensi dasar seorang dokter,” jelasnya.
Menurut dokter Tifa, dalam konteks matematika terdapat tingkatan analisis yang lebih tinggi, termasuk penggunaan formula khusus untuk membandingkan dua foto secara objektif.
Ia menyebut komparasi dilakukan dengan mengukur berbagai rasio pada struktur wajah, seperti dagu, lebar rahang, lipatan mata, kedalaman mata, hingga panjang hidung.
“Asimetri wajah itu ada 17 variabel yang kemudian saya ekstrapolasikan dalam hitungan matematika, di situ rumusnya sudah terkunci,” katanya.
Baca Juga: Mobil Relawan Aceh Diduga Dipungli, Dishub Palembang Buka Suara
Dokter Tifa mengungkapkan bahwa foto Jokowi yang dibandingkan berasal dari periode berbeda, mulai dari saat masih muda dengan ciri berkacamata dan berkumis, hingga foto dengan rambut menipis tanpa kacamata dan kumis.
“Hasilnya saya hitung dengan 17 variabel, ternyata hasil similarity-nya hanya 1 persen. Perbedaan antara kedua kelompok foto itu 99,7 persen. Itu orang yang berbeda,” tegasnya.
“Tingkat kemiripannya cuma 0,1 persen, kurang dari 1 persen. Ini udah nggak bisa, kita nggak bisa lagi bicara soal matematika. Matematika itu ilmu Allah, apa lagi? Semua sains itu berujung, berpangkal dan ujung pada matematika,” tandasnya.***
Artikel Terkait
Roy Suryo Klaim Gibran Tak Punya Ijazah SMA, Datanya dari Mana?
Unggah Analisis Roy Suryo Mengenai Ijazah Jokowi, Dokter Tifa Dianggap Ikut Sebar Hoaks
Syahganda Ungkap Alasan Politik di Balik Perbedaan Penanganan Kasus Ijazah dan Korporasi
Ijazah Jokowi Dipamerkan, Roy Suryo: Belum Tentu Itu Ijazah
Isu Fufufafa hingga Ijazah SMA, Bab Baru Polemik Gibran
Dokter Tifa Ungkap 6 Versi Ijazah Jokowi, Versi dari Polda Metro Jaya Disebut Berbeda