PONTIANAKGLOBE.COM, ACEH TENGAH -- Hingga sebulan setelah banjir bandang dan tanah longsor melanda Sumatera pada akhir November 2025, persoalan akses darat masih menjadi pekerjaan besar bagi pemerintah. Di Aceh Tengah, sejumlah desa di Kecamatan Ketol masih terputus dari jalur transportasi normal.
Di Desa Burlah, warga terpaksa mengandalkan tali sling sebagai satu-satunya sarana mobilitas keluar masuk desa.
Baca Juga: Sebulan Pascabanjir, 93 Desa di Aceh Tengah Masih Tanpa Listrik
Jalur darat yang hancur akibat terjangan banjir dan longsor membuat masyarakat harus mencari cara alternatif agar tetap bisa beraktivitas.
Tali sling dipasang melintasi sungai berarus deras dan digunakan warga untuk menyeberang, sekaligus mengangkut logistik serta hasil panen yang akan dijual ke luar desa.
Cabai, durian, dan hasil tani lainnya dipindahkan dengan cara bergelantungan di atas sungai.
“Di sini, masyarakat bertahan hidup dengan menggunakan sling, untuk mengangkut logistik, membawa hasil tani baik itu cabai, durian,” dikutip dari unggahan akun Instagram relawan sekaligus dokter, @dr.ilhamsyhputra, pada Senin, 29 Desember 2025.
“Kondisinya sangat kacau, bahkan untuk recovery butuh waktu lama, masalah kesehatan juga harus diperhatikan,” lanjutnya.
Dalam rekaman video tersebut, tampak kondisi Desa Burlah yang dipenuhi kayu-kayu besar sisa banjir. Banyak rumah warga rusak parah, roboh, bahkan tertimbun lumpur yang mulai mengeras.
Sebelumnya, momen Wakil Bupati Aceh Tengah, Muchsin Hasan, juga sempat menjadi sorotan publik saat menyeberangi sungai menggunakan tali sling di Kecamatan Ketol.
Insiden itu terjadi pada 24 Desember 2025, ketika salah satu pengikat tali sling putus di tengah perjalanan.
Baca Juga: Rumah Hilang Disapu Banjir Aceh Tamiang, Warga Suka Jadi Bertahan di Tenda BNPB
Muchsin Hasan nyaris terjatuh ke Sungai Bergang dari ketinggian sekitar 10 meter. Tali tersebut tak mampu menahan beban tubuhnya bersama motor trail yang ikut diangkut ke seberang.
Selain persoalan akses darat, warga Kecamatan Ketol juga masih menghadapi krisis listrik. Hingga kini, sebanyak 11 desa, termasuk Desa Burlah, masih hidup dalam kondisi gelap karena aliran listrik belum kembali masuk ke wilayah permukiman pascabanjir bandang.***
Artikel Terkait
Terisolasi Pascabencana, Warga Aceh Tengah Pilih Bangun Jembatan Sendiri
Bertahan di Atap Rumah Saat Banjir, Warga Aceh Tamiang Cerita Detik Paling Menegangkan
Minim Air Bersih Pascabanjir, Penyakit Kulit Mulai Menyerang Warga Aceh Tamiang
Dokter Daeng Faqih: Terlambat Tangani Medis, Penyakit Bisa Menyebar di Pengungsian
Rumah Hilang Disapu Banjir Aceh Tamiang, Warga Suka Jadi Bertahan di Tenda BNPB
Sebulan Pascabanjir, 93 Desa di Aceh Tengah Masih Tanpa Listrik