Prabowo Tegaskan Perang Total terhadap Perampokan Kekayaan Negara

photo author
Judirho Aho, Pontianak Globe
- Kamis, 25 Desember 2025 | 06:58 WIB
Foto: Presiden Prabowo Subianto  (Dok. Istimewa )
Foto: Presiden Prabowo Subianto (Dok. Istimewa )

PONTIANAKGLOBE.COM, JAKARTA -- Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan bahwa langkah penertiban kawasan hutan dan penyelamatan kekayaan negara yang tengah dijalankan pemerintah masih berada pada tahap awal.

Menurutnya, temuan yang berhasil diungkap sejauh ini baru sebagian kecil dari praktik penyimpangan besar yang telah merugikan Indonesia selama puluhan tahun.

“Apa yang kita capai hari ini sesungguhnya baru ujung dari kerugian bangsa dan negara,” kata Prabowo saat menghadiri penyerahan hasil penyelamatan keuangan negara di Gedung Kejaksaan Agung, Jakarta, Rabu (24/12/2025). 

Baca Juga: Satgas PKH Tagih Rp2,34 Triliun dari Perusahaan Sawit dan Tambang, Hutan 4 Juta Hektare Direbut Kembali

Prabowo menyebut penyimpangan dalam pengelolaan kawasan hutan dan sumber daya alam telah berlangsung lama dan dilakukan secara sistematis oleh pihak-pihak yang mengedepankan keserakahan.

Ia menilai para pelaku berani meremehkan negara dengan menganggap seluruh pejabat bisa dibeli.

“(Mereka) berani melecehkan negara, menganggap pejabat di setiap eselon bisa dibeli dan disogok,” tegasnya.

Sejak menerima mandat sebagai presiden, Prabowo mengaku berkomitmen penuh memerangi korupsi dan perampokan kekayaan negara.

Salah satu langkah konkret yang diambil adalah membentuk Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH) hanya tiga bulan setelah pelantikannya.

Hasil kerja satgas tersebut mulai terlihat dengan berhasil menyelamatkan keuangan negara hingga sekitar Rp6 triliun.

Namun Prabowo kembali menegaskan angka tersebut masih jauh dari potensi kerugian negara yang sesungguhnya.

“Ini baru permulaan. Jika diteliti dengan sungguh-sungguh, potensi kerugian negara bisa mencapai ratusan triliun rupiah,” ujarnya.

Prabowo mengibaratkan negara seperti tubuh manusia, sementara kekayaan negara adalah darah yang mengalir di dalamnya dan tidak boleh terus-menerus bocor.

“Jika setiap hari bocor karena korupsi, penyelundupan, laporan palsu, dan suap, maka negara akan runtuh,” katanya.

Ia menegaskan siap berada di garis terdepan dalam upaya pemberantasan korupsi dan penyelamatan aset negara, meski tantangan yang dihadapi tidak ringan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Judirho Aho

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Budaya Tumbuh dari Keberanian

Rabu, 3 Juni 2026 | 15:42 WIB
X