Akses Terputus Pascabanjir, Ibu Ini Tempuh 9 Jam Jalan Kaki Bawa Bantuan

photo author
Judirho Aho, Pontianak Globe
- Minggu, 21 Desember 2025 | 18:53 WIB
Seorang warga Tapanuli Tengah yang harus berjalan sembilan jam untuk mendapat bantuan pascabanjir.  (Dok. TikTok/Apa Aja)
Seorang warga Tapanuli Tengah yang harus berjalan sembilan jam untuk mendapat bantuan pascabanjir. (Dok. TikTok/Apa Aja)

PONTIANAKGLOBE.COM, TAPANULI TENGAH -- Di tengah puing dan lumpur sisa banjir yang melanda wilayah Sumatera, terselip kisah perjuangan seorang ibu di Tapanuli Tengah yang menyentuh banyak hati.

Demi membawa pulang bantuan untuk keluarganya, ia harus berjalan kaki selama sembilan jam melewati medan pascabencana yang berat dan penuh risiko.

Baca Juga: Fenomena Aneh Banjir Aceh: Air Keruh Berlapis Minyak Diduga Solar

Kisah tersebut terekam dalam video amatir yang diunggah akun TikTok @apa aja pada Sabtu (20/12/2025). Dalam rekaman itu, perempuan tersebut terlihat memanggul bantuan logistik di pundaknya sambil terus melangkah di jalanan yang sulit dilalui akibat dampak banjir.

Terputusnya akses jalan membuat kendaraan tak bisa melintas, sehingga warga hanya mengandalkan kekuatan fisik untuk bertahan. Dengan napas terengah namun tetap tegar, wanita itu merekam perjalanan pulangnya menuju rumah.

“Terima kasih buat sembakonya,” ucapnya penuh rasa syukur.

Ia kemudian menjelaskan betapa jauhnya jarak yang harus ditempuh demi membawa bantuan tersebut. Bagi sebagian orang, sembilan jam hanyalah waktu perjalanan biasa, namun baginya itu adalah perjuangan panjang demi sekantong sembako.

“Ini kami sudah perjalanan pulang, semoga tidak hujan ya,” lanjutnya.

Rasa lelah tampak jelas di wajahnya, namun semangatnya tak surut. Ia terus menguatkan diri sendiri di tengah perjalanan yang menguras tenaga.

“Kami butuh tenaga, untuk perjalanan kami butuh waktu sembilan jam, semangat,” katanya.

Baca Juga: Krisis Gas LPG Pascabanjir, Warga Takengon Terpaksa Masak Pakai Kayu Hanyut

Di akhir video, perempuan tersebut menyampaikan permohonan sederhana namun penuh harap. Ia menyadari bahaya longsor susulan dan medan licin bisa mengancam keselamatannya kapan saja.

“Doakan semoga perjalanan kami aman-aman, tidak ada bahaya,” pungkasnya.

Kisah ini menjadi gambaran nyata betapa beratnya akses distribusi bantuan pascabencana di wilayah terpencil, di mana satu paket sembako harus ditebus dengan perjalanan kaki berjam-jam dan keteguhan hati.***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Judirho Aho

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X