Nama ilmiahnya dipublikasikan pertama kali oleh Willem Frederik Reinier Suringar pada tahun 1879 dan hidup sebagai holoparasit pada inang Tetrastigma leucostaphyllum.
World Wide Fund for Nature (WWF) mencatat diameter bunga ini saat mekar mencapai 30-50 cm.
Baca Juga: Roy Suryo Klaim Gibran Tak Punya Ijazah SMA, Datanya dari Mana?
Masa mekarnya hanya berlangsung beberapa hari dan lokasinya sangat terbatas, termasuk di Bukit Tigapuluh, Riau, Jambi, dan Taman Nasional Kerinci Seblat. Di Sumatra Barat, keberadaannya jauh dari akses publik dan memerlukan izin khusus.
Dari 25 spesies Rafflesia di dunia, 14 berada di Indonesia, dan 11 di antaranya ditemukan di Sumatra. Namun, populasinya semakin terancam. Community for the Conservation and Research of Rafflesia (CCRR) melaporkan sekitar 60 persen spesies kini masuk kategori terancam punah, bahkan mendekati kritis, sementara 67 persen habitatnya berada di luar kawasan lindung.
Rafflesia hasseltii telah dilindungi melalui PP No. 7 Tahun 1999 dan berstatus genting (endangered) dalam Daftar Merah IUCN.***
Artikel Terkait
Sudah Tahu Sejarah Tari TorTor Asal Sumatera Utara ? Ada Sejak Zaman Batak Purba Sebagai Tari Persembahan
Profil Singkat Mgr Victorius Dwiardy OFM Cap: Langkah Pasti Menuju Seminari Tinggi di Sumatera Utara
Bahagianya Seniman Jawa di Sumatera Utara, Dapat Bantuan Gamelan Gratis dari Ganjar, Balon Capres
Daftar Provinsi dengan UMP Tertinggi Tahun 2024, DKI Jakarta Teratas Disusul Bangka Belitung Hingga Sumatera Selatan
Gunung Marapi di Sumatera Barat Meletus, Kolom Abu Mencapai Ketinggian 3.000
Gunung Marapi di Sumatera Kembali Erupsi, Dentuman Keras Kagetkan Warga