PONTIANAKGLOBE.COM, JAKARTA -- Kritik terhadap transparansi harta pejabat kembali muncul setelah Direktur Eksekutif CBA, Uchok Sky Khadafi, meminta Gubernur Jawa Barat meninjau ulang LHKPN milik Plt Direktur Utama Bank BJB, Ayi Subarna. Sorotan publik tertuju pada nominal kas yang dilaporkan Ayi, yang dianggap terlalu kecil untuk pejabat yang memimpin salah satu BUMD besar di Indonesia.
Uchok menilai data tersebut patut dicurigai dan perlu pengecekan lebih lanjut oleh pemerintah provinsi.
“Sekelas Plt Dirut BJB masa hanya punya kas atau tabungan Rp 25 juta? Jangan sampai Kang Dedi dibohongi, ini harus diusut,” ujarnya.
Baca Juga: Tanpa Penjelasan Resmi, Publik Terus Mencari Jawaban atas Wafatnya Dirut BJB
Laporan LHKPN Ayi Subarna untuk periode 2024 mencatat total kekayaan Rp 2,16 miliar, sebagian besar berasal dari properti dan kendaraan.
Tanah dan bangunan tercatat Rp 2,23 miliar, alat transportasi senilai Rp 1,14 miliar, kas Rp 25,6 juta, dan total hutang Rp 1,23 miliar.
Nilai kas yang hanya Rp 25 juta itu menjadi fokus kritik CBA karena menggambarkan tingkat likuiditas pribadi yang dinilai tidak selaras dengan jabatan strategis Ayi di Bank BJB.
Situasi ini menimbulkan pertanyaan mengenai ketelitian pelaporan atau kemungkinan adanya data yang tidak sesuai.
Uchok juga meminta Pemerintah Provinsi Jawa Barat lebih ketat dalam menunjuk pejabat strategis di BUMD.
“Ada dugaan ketidakjujuran kalau melihat LHKPN-nya. Tentu pemerintah provinsi harus lebih selektif,” katanya.
Hingga berita ini diterbitkan, Ayi Subarna belum memberikan tanggapan mengenai kritik tersebut, dan pihak Bank BJB juga belum mengeluarkan pernyataan resmi.
Jika melihat rekam laporan LHKPN, kekayaan Ayi menunjukkan pertumbuhan yang stabil dalam lebih dari satu dekade terakhir.
Peningkatan signifikan tampak pada periode ketika ia mulai menduduki posisi-posisi penting seperti pemimpin cabang dan kemudian pemimpin divisi. Catatan kekayaannya terus meningkat dari Rp 71 juta pada 2012 hingga Rp 2,16 miliar pada 2024.
Baca Juga: Jimly vs Roy Suryo Cs: Benturan Dua Narasi dalam Isu Ijazah Jokowi
Perjalanan kariernya juga panjang, mulai dari memimpin beberapa kantor cabang seperti Jatinangor, Cimahi, dan Soreang, hingga akhirnya dipercaya mengisi kursi Plt Direktur Utama Bank BJB.
Artikel Terkait
Kredit Fiktif BJB Pandeglang: Pimpinan Cabang Lolos, Dua Karyawan Ditangkap?
Laba BJB Syariah Anjlok 60 Persen di Kuartal I 2024, Beban Operasional dan Penurunan Pendapatan Non-Bunga Jadi Pemicu Utama
Update Skandal Korupsi Iklan BJB: Anggaran Rp409 M, Direalisasikan Rp100 M
Tanpa Penjelasan Resmi, Publik Terus Mencari Jawaban atas Wafatnya Dirut BJB