-
50% untuk kebutuhan pokok: makan, sewa, transportasi, dan tagihan (Rp1,5 juta)
-
30% untuk gaya hidup dan hiburan: nongkrong, pulsa, langganan streaming (Rp900 ribu)
-
20% untuk tabungan dan investasi: (Rp600 ribu)
Dari Rp600 ribu inilah kamu bisa mulai menanam benih masa depanmu. Jangan remehkan jumlah kecil.
Dalam setahun, itu sudah Rp7,2 juta. Kalau diinvestasikan dengan return rata-rata 8–10%, nilainya bisa terus bertumbuh.
Langkah Pertama: Kenali Tujuan dan Risiko
Sebelum asal klik beli reksa dana atau saham, kamu perlu tahu dulu tujuan investasimu.
Apakah untuk:
-
Dana darurat
-
DP rumah
-
Modal usaha
-
Pensiun dini
Setiap tujuan punya waktu dan risiko berbeda. Misalnya:
-
Untuk dana darurat, pilih investasi likuid dan aman seperti deposito atau reksa dana pasar uang.
-
Untuk tujuan jangka panjang, kamu bisa ambil instrumen yang lebih berisiko tapi berpotensi hasil tinggi seperti saham atau reksa dana saham.
Intinya, pahami dulu seberapa siap kamu dengan fluktuasi nilai investasi. Jangan cuma tergiur “cuan cepat”.
Artikel Terkait
Jangan Asal Beli Saham! Begini Cara Cerdas Masuk ke Pasar Modal untuk Pemula
Forex vs Pasar Saham, Mana yang Tepat untuk Investor Pemula? Ternyata Bukan Pilih yang Lebih Untung, tapi Faktor Ini
Forex vs Saham, Begini Cara Memilih Investasi Aman untuk Pemula, Jangan Asal Ikut Tren!
Perbedaan Analisis Fundamental dan Teknikal, Begini Panduan Dasar Investasi Saham untuk Pemula
Efek Domino Setelah Tropical Coastland Dicoret dari PSN, Saham PANI Langsung Babak Belur
2 Saham AI Ini Diprediksi Meledak November 2025, Apakah Nvidia dan Amazon Jadi Jawara?