Dengan kepiawaian komunikasi dan kecerdasannya, Catherine berteman dengan istri-istri pejabat tinggi militer dan pemerintah Iran.
Baca Juga: Dari Asmaul Husna hingga Filosofi Sunda, Dedi Mulyadi Jelaskan Makna Logo Baru RSUD Welas Asih
Dari sana, ia berhasil masuk ke ruang-ruang pribadi tempat informasi sensitif dibicarakan secara terbuka.
Ia kerap diundang dalam pertemuan-pertemuan eksklusif, dipercaya sebagai bagian dari “keluarga besar” republik Islam tersebut.
Beberapa laporan menyebut Catherine bebas mengambil foto di lokasi-lokasi strategis, termasuk fasilitas militer dan nuklir.
Gambar-gambar tersebut diyakini digunakan sebagai bahan intelijen oleh Mossad, membantu merancang serangan Israel secara presisi.
Karier Publik yang Menutupi Misi Rahasia
Selain menulis untuk media-media Iran, Catherine pernah bekerja sebagai konsultan Dewan Keamanan PBB untuk isu-isu di Yaman.
Tulisan-tulisannya banyak mengangkat narasi pro-Iran, anti-Zionis, dan anti-Barat—membangun citra sebagai pendukung setia perjuangan Syiah.
Baca Juga: Gubernur Ria Norsan : RPJMD Menjadi Acuan Utama Pembangunan Lima Tahun Mendatang
Namun di balik tulisan-tulisan tersebut, Catherine diduga tengah mengumpulkan informasi strategis.
Ia membantu mengungkap jaringan rahasia Iran, termasuk nama-nama ilmuwan nuklir, pangkalan militer, dan pergerakan pejabat tinggi Garda Revolusi.
Tiga hari sebelum serangan Israel dimulai, Catherine menghilang.
Terakhir kali ia terlihat di Israel pada 10 Juni 2025.
Iran pun meluncurkan operasi pencarian besar-besaran.