Harga Minyak Dunia Melejit Usai AS-Israel Serang Fasilitas Nuklir Iran, Brent Tembus Rp1,2 Juta per Barel

photo author
Steve Vantax, Pontianak Globe
- Selasa, 24 Juni 2025 | 10:25 WIB
Foto Ilustrasi - Harga minyak bumi melonjak gegara serangan AS ke fasiltas utama nuklir Iran.  (freepik.com)
Foto Ilustrasi - Harga minyak bumi melonjak gegara serangan AS ke fasiltas utama nuklir Iran. (freepik.com)

PONTIANAKGLOBE.COM, JAKARTA -- Harga minyak dunia melonjak tajam menyusul serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap fasilitas nuklir utama Iran.

Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah memicu kekhawatiran pasar atas terganggunya pasokan energi global.

Baca Juga: Paket Wisata 3B Diperkuat, Kemenpar Siapkan Rute Laut Banyuwangi–Lovina

Minyak mentah Brent naik 2,49 persen menjadi USD78,93 per barel atau sekitar Rp1.278.666. Sementara West Texas Intermediate (WTI) naik 2,56 persen ke level USD75,73 per barel atau setara Rp1.243.800.

Pada awal sesi perdagangan, harga kedua kontrak sempat melonjak lebih dari 3 persen, dengan Brent menyentuh USD81,40 dan WTI mencapai USD78,40—level tertinggi sejak Januari 2025.

Lonjakan harga ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi bahwa militer AS telah menghancurkan fasilitas nuklir Iran, sebuah langkah yang memicu kekhawatiran akan konflik yang lebih luas di kawasan.

Baca Juga: Wamenpar Dorong Paket Wisata 3B, Genjot Daya Saing Bali Utara dan Barat

Pemerintah Iran pun menyatakan kesiapan untuk melakukan serangan balasan, memperkuat ketidakpastian pasar energi global.

Iran sendiri merupakan produsen minyak mentah terbesar ketiga di antara negara anggota Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC), sehingga potensi gangguan pasokan dari negara tersebut sangat memengaruhi harga.

Baca Juga: Kaesang Daftar Lagi Jadi Ketum PSI, Targetkan Masuk Senayan dan Bocorkan Sinyal Tokoh Besar Bergabung

“Kenaikan harga minyak mencerminkan kekhawatiran pasar atas stabilitas pasokan energi global,” demikian laporan Reuters, Senin, 23 Juni 2025.

Negara-negara pengimpor minyak kini mencermati perkembangan lebih lanjut, seiring risiko gangguan pasokan dan kemungkinan meluasnya konflik di kawasan Teluk. ***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Steve Vantax

Sumber: Reuters

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X