Badai Sitokin dalam Konteks COVID-19: Gejala, Dampak, dan Strategi Pengobatan

photo author
Steve Vantax, Pontianak Globe
- Senin, 18 Desember 2023 | 11:58 WIB
Ilustrasi Covid-19.
Ilustrasi Covid-19.

PONTIANAKGLOBE.COM, JAKARTA -- COVID-19, yang saat ini diakui sebagai pandemi global oleh World Health Organization (WHO), menjadi fokus utama perhatian kesehatan masyarakat dunia.

Penyakit ini disebabkan oleh virus Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus-2 (SARS-CoV-2), yang dapat menular melalui droplet dan kontak langsung.

Infeksi virus ini terutama menargetkan saluran pernapasan bagian bawah dan dapat menimbulkan kerusakan pada organ-organ lain dalam tubuh manusia.

Namun, respons imun yang efektif dapat mengurangi gejala, bahkan hingga tidak adanya gejala pada beberapa pasien.

Salah satu elemen kunci dalam respons imun tubuh adalah sitokin, sejenis protein yang berperan dalam merespons peradangan dan infeksi.

Namun, respon imun yang tidak terkontrol dapat menghasilkan peningkatan produksi sitokin proinflamasi, yang dikenal sebagai badai sitokin.

Pada pasien COVID-19, peningkatan kadar sitokin serum, seperti interleukin-1β, interleukin-6, IP-10, TNF, interferon-γ, macrophage inflammatory protein (MIP) 1α dan 1β, serta VEGF, dapat terjadi.

Tingginya tingkat interleukin-6 terkait erat dengan tingkat kelangsungan hidup yang lebih rendah.

Baca Juga: Bumi Diterjang Badai Matahari Terkuat, Potensi Dampak ke Seluruh Dunia

Badai sitokin dicirikan oleh gejala konstitusional, peradangan sistemik, dan disfungsi multiorgan.

Jika tidak ditangani dengan tepat, kondisi ini dapat menyebabkan kegagalan multiorgan.

Onset dan durasi badai sitokin bervariasi tergantung pada penyebab dan metode pengobatan yang diterapkan. Hampir semua pasien dengan badai sitokin mengalami demam, yang dapat berkembang menjadi demam tinggi pada kasus yang parah. Gejala lainnya meliputi kelelahan, anoreksia, sakit kepala, ruam, diare, artralgia, mialgia, dan gejala neuropsikiatri.

Baca Juga: Arsenal Tundukkan Brighton 2-0, Gabriel Jesus dan Kai Havertz Jadi Pahlawan

Pasien yang mengalami badai sitokin dapat mengalami komplikasi serius seperti koagulasi intravaskular diseminata, dispnea, hipoksemia, hipotensi, ketidakseimbangan hemostatik, syok vasodilatasi, dan bahkan kematian.

Mayoritas pasien juga mengalami gejala pernapasan, seperti batuk dan takipnea, yang dapat berkembang menjadi sindrom gangguan pernapasan akut (ARDS) dan memerlukan ventilasi mekanis.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Steve Vantax

Sumber: yankes.kemenkes.go.id

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X