Sudah Tahu Sejarah Tari TorTor Asal Sumatera Utara ? Ada Sejak Zaman Batak Purba Sebagai Tari Persembahan

photo author
Bima Kresna, Pontianak Globe
- Rabu, 7 Desember 2022 | 19:45 WIB
Tari TorTor. (Foto: travellink-indonesia.com)
Tari TorTor. (Foto: travellink-indonesia.com)

PONTIANAKGLOBE.COM - Sobat Globe, sudah tahu belum tari TorTor merupakan warisan budaya Tak Benda Indonesia pada tahun 2013 dengan nomor registrasi 201300002, domain Seni Pertunjukan dari Provinsi Sumatera Utara.

Tari Tortor merupakan tarian yang berasal dari Sumatera Utara.

Tortor pada awalnya bukanlah suatu tarian, tetapi sebagai pelengkap gondang (uning-uningan) yang berdasarkan kepada falsafah adat itu sendiri.

Di dalam upacara-upacara adat di Mandailing dimana uning-uningan dibunyikan (margondang), selalu dilengkapi dengan acara manortor.

Pada awalnya manortor hanya diadakan pada acara-acara adat margondang.

Namun, dalam perkembangan selanjutnya manortor ini juga sudah dilakukan pada acara-acara hiburan dengan cara memodifikasi tortor sedemikian rupa agar lebih menarik bagi penonton yang dalam perkembangannya mengarah menjadi tarian.

Sejarah Tari Tortor

Dilansir laman warisanbudaya.kemdikbud.go.id, sejarah tari tortor diperkirakan telah ada sejak zaman batak purba.

Di masa itu, tarian ini digunakan sebagai tari persembahan bagi roh leluhur.

Penggunaan properti berupa patung yang dibuat dari batu merupakan ciri khas utama dari pertunjukan tari tor tor pada masa silam.

Patung batu tersebut dapat bergerak dan menari seiring bunyi tetabuhan musik setelah dimasuki oleh roh nenek moyang.

Tema dan Makna Filosofi

Untuk saat ini, penggunaan tari tortor sebagai sarana ritual keagamaan telah beralih fungsi.

Saat ini, tari tortor lebih cenderung berfungsi sebagai sarana hiburan sekaligus media komunikasi antar sesama warga.

Oleh karena fungsi tersebut, tari tortor dibagi ke dalam 3 peruntukan, yaitu tortor pangurason, tortor sipitu cawan dan tortor tunggal panaluan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Bima Kresna

Sumber: warisanbudaya.kemdikbud.go.id

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X