PONTIANAKGLOBE.COM, PONTIANAK -- Lanskap perbatasan utara Kalimantan Barat menghadapi tekanan perubahan tata ruang yang semakin besar dalam beberapa tahun terakhir.
Di Kecamatan Batang Lupar dan Empanang, Kabupaten Kapuas Hulu—wilayah yang beririsan dengan kawasan Cagar Biosfer Betung Kerihun–Danau Sentarum—sejumlah pemantauan berbasis citra satelit menunjukkan terjadinya penyusutan tutupan hutan alam.
Baca Juga: Dari Kanopi ke Sungai, Membaca Dampak Perubahan Iklim di Jantung Borneo
Perubahan bentang alam tersebut memunculkan persoalan baru, yaitu ruang hidup satwa liar yang semakin menyempit, meningkatnya tekanan terhadap komunitas lokal, hingga munculnya konflik pemanfaatan lahan.
Koalisi organisasi lingkungan seperti Satya Bumi dan Walhi Kalbar dalam kajiannya menyoroti bahwa sebagian besar populasi orangutan saat ini berada di luar kawasan konservasi formal.
Habitat tersebut tersebar di kawasan Hutan Produksi (HP) maupun Area Penggunaan Lain (APL) yang secara regulasi memiliki potensi untuk dialihfungsikan.
Bagi Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus pygmaeus), kondisi ini membuat ruang hidup mereka semakin bergantung pada keberlanjutan lanskap di luar kawasan konservasi.
Titik Kritis di Lanskap Perbatasan
Sorotan utama investigasi berada di wilayah konsesi yang berbatasan dengan Daerah Aliran Sungai (DAS) Labian–Leboyan.
Dalam laporan yang dirilis Betahita dan Satya Bumi, aktivitas pembukaan lahan oleh perusahaan menjadi salah satu area yang mendapat perhatian karena berada di sekitar bentang alam penting bagi keanekaragaman hayati.
Analisis spasial yang dikutip dalam laporan tersebut mencatat beberapa indikasi dampak ekologis.
Pertama, pemantauan berbasis satelit menyebut adanya kehilangan tutupan hutan yang diduga mencapai sekitar 2.868 hektare di area yang berfungsi sebagai penyangga hidrologi bagi kawasan Danau Sentarum.
Baca Juga: Dari Australia hingga Kalimantan Barat, Dunia Bersiap Hadapi Dampak El Niño
Kedua, tim lapangan bersama masyarakat setempat melaporkan temuan sejumlah sarang aktif orangutan di area yang berada di sekitar batas konsesi.
Temuan tersebut memperkuat dugaan bahwa sebagian area yang mengalami perubahan tutupan lahan merupakan jalur jelajah alami (home range) orangutan untuk mencari sumber pakan musiman.