daily-vibes

Fakta di Balik Deepfake SMAN 11 Semarang, Pelaku Anak Polisi dan Mahasiswa UNDIP

Kamis, 23 Oktober 2025 | 12:47 WIB
Menyoroti kasus viralnya konten ‘deepfake’ asusila yang libatkan pelaku alumni SMAN 11 Semarang. (Dok. Instagram.com/@sman11semarang.official)

PONTIANAKGLOBE.COM, SEMARANG -- Heboh kasus konten asusila hasil editan kecerdasan buatan (AI) mengguncang SMAN 11 Semarang. Seorang mahasiswa Universitas Diponegoro (UNDIP) bernama Chiko Radityatama Agung Putra mengaku sebagai pembuat video dan foto palsu yang tersebar luas di media sosial.

Video bertajuk “Skandal Smanse” tersebut membuat resah siswa, guru, dan orang tua hingga memicu aksi protes besar-besaran di sekolah.

Baca Juga: Usai Disorot Menkeu, Pramono Anung Jawab Soal Dana DKI yang Mengendap

Fakta bahwa pelaku merupakan alumnus sekolah dan anak seorang anggota kepolisian menambah panas situasi.

Kabid Humas Polda Jawa Tengah, Kombes Pol. Artanto, menegaskan bahwa penanganan kasus dilakukan secara profesional dan hati-hati, mengingat kasus ini melibatkan anak di bawah umur dan berdampak pada kondisi psikologis korban.

“Penyidik memiliki pertimbangan tertentu karena ini menyangkut masalah anak dan konten yang sensitif,” ujar Artanto di Semarang, Kamis (23/10/2025).

Ia memastikan status ayah pelaku sebagai anggota Polres Semarang tidak akan mempengaruhi jalannya penyidikan.

“Kasus ini akan kami tangani secara transparan dan profesional. Percayakan kepada Polri,” tegasnya.

Kasus ini pertama kali mencuat setelah video permintaan maaf Chiko diunggah di akun Instagram resmi sekolah, @sman11semarang, pada 22 Oktober 2025. 

Dalam video itu, Chiko mengaku mengedit gambar dan video menggunakan AI dan meminta maaf kepada pihak sekolah serta siswa.

“Saya ingin meminta maaf karena telah mengedit dan mengunggah foto maupun video teman-teman tanpa izin,” ujar Chiko.

Baca Juga: Dari Rp300 Ribu Jadi Rp400 Ribu, Insentif Guru Honorer Naik Bersamaan Program Beasiswa

Aksi protes siswa pecah di halaman sekolah beberapa hari kemudian. Ratusan siswa membawa spanduk bertuliskan

“Kami Butuh Keadilan” dan “Korban Butuh Perlindungan” sembari menyerukan tuntutan agar pelaku bertanggung jawab.

Kepala DP3AP2KB Jawa Tengah, Emma Rachmawati, turut hadir menenangkan massa dan memfasilitasi mediasi antara pihak sekolah dan perwakilan siswa.

Halaman:

Tags

Terkini