“Saya berharap OMK tidak hanya tumbuh menjadi generasi yang kuat secara iman, tetapi juga kuat dalam karakter, disiplin, mampu bekerja sama, dan berani mengambil peran. Gereja membutuhkan orang muda yang bukan hanya hadir di altar, tetapi juga mampu berkarya di tengah masyarakat,” katanya.
Lebih lanjut, Sibarani mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara kehidupan digital dengan relasi sosial secara nyata.
“Notifikasi telepon genggam mungkin tidak pernah berhenti, tetapi kepedulian kepada keluarga, sesama, dan lingkungan sekitar tidak boleh ikut berhenti. Orang muda harus mampu menggunakan teknologi sebagai sarana kebaikan, bukan kehilangan rasa kemanusiaan karena terlalu sibuk dengan dunia digital,” tambahnya.
Ia menilai kegiatan Temu OMK wilayah Dekanat Barat Keuskupan Ketapang menjadi ruang penting untuk memperkuat jejaring persaudaraan lintas paroki sekaligus membentuk generasi muda Gereja yang tangguh menghadapi perubahan zaman.
“Saya melihat semangat dari 250 OMK yang hadir dari berbagai paroki menjadi tanda bahwa persaudaraan orang muda Katolik di Ketapang dan Kayong Utara tetap hidup dan perlu terus dirawat. Dari ruang-ruang seperti inilah lahir pemimpin masa depan yang berakar pada iman, bertumbuh dalam pelayanan, dan mampu memberi dampak bagi masyarakat,” pungkasnya.