Ia menambahkan, pemerintah menelusuri dua kemungkinan sumber utama pencemaran: dari limbah baja impor atau kebocoran pelimbahan yang menggunakan Cesium-137 untuk keperluan industri.
“Penelusuran terus dilakukan secara masif dari dua sisi,” tegasnya.
Baca Juga: Kandungan Susu MBG Disorot, BGN Tegaskan Setara Susu Segar dan Penuhi Standar BPOM
KLHK juga mencatat ada sepuluh titik yang terpapar zat radioaktif, tersebar di kawasan industri dan pemukiman warga. Petugas gabungan kini melakukan dekontaminasi intensif dengan target selesai dalam satu bulan.
Sebagai langkah pencegahan, pemerintah menghentikan sementara impor limbah baja dan besi.
“Importasi skrap baja dan besi kami hentikan sampai tata kelola dan pengawasan di pelabuhan serta industri diperketat,” ujar Hanif.
Langkah ini diambil agar pemerintah memiliki waktu untuk memperkuat pengawasan impor bahan baku industri logam dan memastikan insiden serupa tak kembali terjadi.***
Artikel Terkait
Pencemaran di Raja Ampat, KLHK Temukan Tambang Tanpa Dokumen Lingkungan, Catat Ini Nama Perusahannya
Tren Baru Wisata! Tak Lagi Ramai, Tapi Personal dan Ramah Lingkungan, Begini Kata Wamen Parekraf Ni Luh Puspa
Dorong Wisata Bersih di Lovina, Kemenparekraf Ajak Masyarakat dan Wisatawan Peduli Lingkungan
Bupati Sujiwo Tekankan Pentingnya Peran Duta Lingkungan Dalam Suarakan Gerakan Sadar Lingkungan
Udang Beku Indonesia Ditolak AS karena Cs-137, Pemerintah Tetapkan Cikande Zona Radiasi
Heboh Radiasi Cs-137 di Cikande, 9 Warga Terpapar dan Dirawat Intensif