Penguatan Riset dan Industri Nasional
Dany menekankan bahwa seluruh potensi tersebut harus diorkestrasi melalui kebijakan yang mendukung peningkatan kapabilitas industri nasional, termasuk penguasaan teknologi, penguatan riset dan pengembangan, serta regulasi yang kondusif.
Ia menilai anggaran riset Indonesia yang masih sekitar 0,3 persen dari PDB belum cukup untuk mendorong transformasi dari sekadar pengadopsi teknologi menjadi pencipta inovasi.
Strategi tersebut dirangkum dalam konsep DAI, yakni Distinctive, Adaptive, dan Inclusive.
Distinctive berarti mendorong industrialisasi berbasis keunggulan nasional, seperti bioenergi dan ekonomi halal, serta diferensiasi pasar domestik.
Adaptive merujuk pada kemampuan merespons dinamika global, termasuk kebijakan Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM), geopolitik multipolar, integrasi kecerdasan buatan dalam industri, serta transisi energi hijau.
Baca Juga: Batas Investasi Saham Asuransi Bisa Naik hingga 20%, IFG Ingatkan Risiko Konsentrasi
Sementara Inclusive menekankan pembangunan ekosistem industri yang melibatkan UMKM, startup teknologi, BUMN, dan perguruan tinggi dalam satu rantai nilai yang terintegrasi.
Dengan strategi tersebut, Dany optimistis Indonesia dapat mempercepat transformasi ekonomi dan benar-benar naik kelas menjadi negara dengan pertumbuhan yang lebih tinggi dan berkelanjutan.***
Artikel Terkait
KUAI Kedubes AS Buka KTT Investasi Tahunan ke-13 dengan Pidato Utama tentang Kemitraan Ekonomi AS–Indonesia
Produktivitas, Nilai, dan Konsumen untuk Ekonomi yang Lebih Manusiawi
Nilai dalam Ekonomi Modern
Ketahanan Ekonomi Indonesia Tunjukkan Tren Positif Sepanjang 2025
Ekonomi Gelap 35 Persen, Hashim Djojohadikusumo Soroti Kegagalan Negara
Psikolog Bongkar Akar Konflik Rumah Tangga, Ekonomi Jadi Pemicu Terbesar