Investment Analyst Ekky Topan menilai pelemahan BBCA lebih dipicu sentimen isu eksternal, seperti wacana pengambilalihan saham oleh pemerintah serta kasus penyebutan rekening pribadi artis yang menyorot reputasi bank.
“Dua isu ini memicu kekhawatiran jangka pendek, meski tidak terkait langsung dengan fundamental BCA,” ujar Ekky.
Baca Juga: Isi Saldo GoPay Praktis Lewat BCA Mobile dan ATM BCA: Panduan Lengkap
Secara fundamental, BCA dinilai masih solid.
Per Juli 2025, laba bersih bank induk tercatat Rp4,8 triliun (turun 2 persen YoY), sementara total laba bersih tumbuh 11 persen YoY menjadi Rp34,7 triliun, atau sudah 60 persen dari target konsensus 2025.
Menurut Ekky, koreksi saham BBCA lebih merefleksikan reaksi pasar atas isu eksternal ketimbang melemahnya kinerja.
Ia menilai peluang teknikal beli bisa muncul jika aliran dana asing kembali stabil dan sentimen mereda, meski investor tetap perlu waspada terhadap isu reputasi dan kebijakan pemerintah. ***