PONTIANAKGLOBE.COM, SURAKARTA -- PT Sritex resmi tutup permanen pada 1 Maret 2025, menandai akhir dari perjalanan salah satu raksasa tekstil Indonesia.
Kebangkrutan ini memaksa perusahaan memutus hubungan kerja dengan lebih dari 10 ribu karyawan.
Di balik kejatuhan Sritex, sosok Iwan Kurniawan Lukminto, sang direktur utama, menjadi sorotan.
Bagaimana perjalanan karier dan perannya dalam perusahaan yang pernah berjaya di Asia Tenggara ini?
PT Sritex resmi menghentikan operasionalnya secara permanen pada 1 Maret 2025.
Perusahaan tekstil raksasa asal Indonesia ini harus melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 10.669 karyawannya.
Pabrik yang berpusat di Sukoharjo, Jawa Tengah, itu terakhir beroperasi pada 28 Februari 2025.
Sritex mulai menghadapi krisis finansial sejak 2021.
Saham perusahaan sempat disuspensi pada Mei 2021 akibat keterlambatan pembayaran bunga dan pokok Medium Term Notes (MTN).
Baca Juga: Sritex Resmi Tutup Mulai 1 Maret 2025 dan PHK 8.400 Karyawan, Seperti Apa Kondisi Sebenarnya?
Beban utang terus meningkat, mencapai sekitar Rp24,3 triliun pada September 2023.
Kesulitan keuangan ini semakin memburuk akibat ketatnya persaingan global, dampak pandemi Covid-19 yang mengganggu rantai pasok.
Selain itu kondisi geopolitik, seperti perang Rusia-Ukraina, yang menghambat ekspor tekstil ke Eropa dan Amerika Serikat, juga sangat berpengaruh.
Pada 21 Oktober 2024, Pengadilan Niaga Semarang memutuskan bahwa Sritex dan tiga anak perusahaannya -- PT Sinar Pantja Djaja, PT Bitratex Industries, dan PT Primayudha Mandirijaya -- berada dalam kondisi pailit.