Begini Cara Menghindari Deepfake seperti Kasus 'Jokowi' Berbicara Bahasa Mandarin

photo author
Tim Pontianak Globe 03, Pontianak Globe
- Senin, 13 November 2023 | 12:40 WIB
Teknologi deepfake dinilai sangat berbahaya, namun publik dihimbau untuk tidak paranoid (ilustrasi/ Markus Spiske/Unsplash.com)
Teknologi deepfake dinilai sangat berbahaya, namun publik dihimbau untuk tidak paranoid (ilustrasi/ Markus Spiske/Unsplash.com)

PONTIANAKGLOBE.COM, JAKARTA -- Meskipun sulit, deteksi konten deepfake, seperti video pidato Presiden Joko Widodo (Jokowi) berbahasa Mandarin, yang merupakan karya kecerdasan buatan (AI), masih bisa dilakukan dengan berbagai teknik, salah satunya melalui watermark.

Baca Juga: Suhartoyo Dilantik Sebagai Ketua Mahkamah Konstitusi, Mengapa Anwar Usman Absen?

Lalu, bagaimana cara agar tidak terkecoh oleh konten hasil polesan teknologi deepfake?

Damon Hakim, Managing Partner Red Asia, perusahaan teknologi berbasis AI, menjelaskan bahwa dengan berkembangnya teknologi AI, masyarakat harus bersikap jeli ketika menerima informasi, baik itu dalam bentuk tulisan, gambar, suara, maupun video.

Baca Juga: Panahan Indonesia Kehilangan Legenda, Kusuma Wardhani Tutup Usia. Diperankan Tara Basro saat Difilmkan dalam '3 Srikandi'

"Tips untuk pengguna adalah memastikan bahwa apa yang dibaca, didengar, maupun ditonton di internet, terlepas dari apakah itu deepfake atau tidak, kita harus menyadari bahwa ini datang dari sumber yang mungkin tidak kita ketahui," kata Hakim saat peluncuran tiga layanan AI redAI for Indonesia, Rabu, 1 November 2023.

Hakim menekankan bahwa masyarakat harus memiliki filter sendiri untuk memastikan agar tidak mudah menerima informasi, terutama jika sumbernya tidak jelas.

Baca Juga: Google Buka Suara, Tanggapi Isu YouTube Mau Jadi e-Commerce di Indonesia

Informasi yang sah biasanya diunggah di media sosial resmi atau diliput oleh media massa.

Walaupun teknologi terus berkembang, Hakim mengingatkan bahwa kemajuan teknologi dapat menjadi pisau bermata dua.

Oleh karena itu, masyarakat harus lebih kritis terhadap suatu konten yang sedang viral di media sosial.

Baca Juga: Daftar Terbaru 10 Orang Terkaya di Indonesia, Posisi 1 Ditempati Prajogo Pangestu dengan Kekayaan Rp 607 Triliun

"Ikuti aturan mainnya. Teknologi itu seperti pisau bermata dua. Ada cara yang benar dan salah untuk menggunakan alat tersebut, tergantung pada penggunaannya," kata Hakim.

Sebelumnya, Kementerian Komunikasi dan Informatika memastikan bahwa video Jokowi yang berbicara bahasa Mandarin masuk kategori disinformasi dan dibuat menggunakan teknologi deepfake.

Menurut Menteri Komunikasi dan Informatika, Budi Arie Setiadi, video tersebut merupakan hasil editan yang menyesatkan, diolah dengan menggunakan kecerdasan buatan atau AI deepfake.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Steve Vantax

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X