PONTIANAKGLOBE.COM, PONTIANAK -- Etika AI yang bermuara kepada etika algoritma pada dasarnya menyoroti rangkaian nilai dan norma moral yang seharusnya ditegakkan dalam pusaran AI. Nilai dan prinsip etis humaniora dalam hidup sehari-hari harus dijunjung.
Suhu diskusi tentang kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) masih hangat walaupun jantung diskursus ini bukan barang baru. Edisi khusus Kompas pernah mengulas tema tentang AI.
Kini, Kementerian Komunikasi dan Informatika akan menyiapkan kebijakan etika AI dalam proses pengembangan kecerdasan buatan (Kompas, 11/8/2023). Tentu, selain mengacu kepada rekomendasi internasional tentang AI (UNESCO), kekayaan bangsa berupa kebijaksanaan lokal perlu dipertimbangkan dalam merajut etika AI ini.
AI Mentransformasi Hidup
Sejarah mencatat, kala sekelompok ilmuwan komputer berlokakarya di Dartmouth College, Amerika Serikat, pada 1956, AI mulai mengubah pola pikir, hidup, dan kerja manusia. Bahkan, para pakar bermimpi bahwa perpaduan antara kemajuan-kemajuan bioteknologi dan rentetan perkembangan AI akan sanggup mengurai masalah-masalah manusia modern.
Temuan-temuan mutakhir lewat AI telah mentransformasi dinamika hidup, kegiatan, dan interaksi sosial.
Dunia ilmiah dewasa ini sangat dipengaruhi oleh AI (Bdk Holzinger dkk, 2023).
AI menyumbangkan sebuah sistem baru yang memungkinkan manusia untuk menafsir data eksternal dengan tepat, benar, dan cermat guna mencapai tujuan dan tugas khusus lewat adaptasi yang luwes (Kaplan dan Haenlein, 2019).
Mesin-mesin berbasis AI dirancang sedemikian rupa sehingga sanggupan ”bernalar”, ”bertingkah laku”, dan bahkan menunaikan tugas-tugas seperti manusia.
Robot-robot berkecerdasan ilmiah mulai mengurus dapur, kantor, dunia pendidikan, bioteknologi, kebun, media komunikasi sosial, keamanan, keagamaan, dan bahkan perjalanan. Bayangkan, sekarang ini tugas utama untuk memeriksa struktur tanah, menyemai benih tanaman, memanen, menjaga keamanan, dan menyiar berita pun sudah ditangani robot (China).
Penerapan AI lewat teknologi modern mendongkrak perkembangan hidup manusia dalam bidang teknologi, kimia, fisika, dan ilmu-ilmu modern.
Peran AI dalam hidup manusia kian menonjol. Robot-robot tidak hanya mengambil alih tugas manusia, tetapi mulai ikut menempuh sejumlah langkah konkret terkait dengan dunia perekonomian, gim daring (game online), tindak kriminal, dan kegiatan-kegiatan militer dalam zona pertempuran.
Sebenarnya, perangkat komputer telah menjadi agen artifisial pertama yang menyedot perhatian para ilmuwan sosial kendati gejala ini acap kali belum disadari banyak orang. Dari satu sisi, hidup dan kerja manusia dipermudah, tetapi dari sisi lain AI menimbulkan dilema dalam bidang kemanusiaan dan etika.
Tantangan kemanusiaan
Pengaruh sosial kecerdasan buatan tak terhindarkan. Sebuah penelitian mengenai industri pengelasan produk-produk berbasis AI dan skenario masa depan dalam menghadapi perubahan teknologi, ekonomi, pendidikan, sosial, misalnya, Emmanuel Afrane Gyasi dkk (2019) mengingatkan pentingnya kebijakan baru dalam bidang teknologi, ekonomi, dan sosial demi kelangsungan dan perbaikan mutu hidup.
Penelitian-penelitian baru dan arah pengembangan sistem AI akan bermunculan di masa depan.
Artikel Terkait
Tangis Haru Para Narapidana saat Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Rayakan Natal Bersama di Lapas Perempuan
Rayakan Natal di Rutan Pontianak, Uskup Agustinus: Kekuatan yang Diandalkan saat ini Hanyalah Kesabaran
Natal Bersama Anak Panti Asuhan, Uskup Agustinus: Saya Kakek Kalian, Belajar yang Baik Saya Bantu Kuliah
Uskup Agustinus Pimpin Misa Pesta Santo Yoseph di Paroki Karangan. Misi Pertama Kongregasi OSJ di Indonesia
Uskup Agustinus Kunjungi Biara Kapusin di Sumatra Utara