Etika Algoritma: Merajut Etika dalam Pusaran AI

photo author
Jans Angkamor Bong, Pontianak Globe
- Kamis, 24 Agustus 2023 | 18:28 WIB
Prof. Dr. William Chang OFMCap (Jans Angkamor Bong)
Prof. Dr. William Chang OFMCap (Jans Angkamor Bong)

Etika AI yang bermuara kepada etika algoritma pada dasarnya menyoroti rangkaian nilai dan norma moral yang seharusnya ditegakkan dalam pusaran AI. Bagaimanakah seharusnya perancang, trainer, dan pengguna mesin AI berpikir dan bersikap?

Peran manusia dan fungsi sarana berbasis AI harus menjamin dan mendukung kebaikan atau kesejahteraan umum (bonum commune).

Perancang, trainer, dan pengguna AI seharusnya menjunjung (1) kejujuran yang transparan dalam pengadaan dan penerapan AI, (2) kesetaraan harkat dan martabat manusia tanpa pilih kasih, (3) tindakan yang bertanggung jawab; (4) sikap yang tidak berprasangka negatif, dan (5) keamanan dan privasi setiap manusia.

Pakar AI perlu menyadari Indonesia sebagai sebuah negara Pancasila yang majemuk mewarisi kekayaan budaya yang seharusnya membangun persaudaraan, kesatuan, dan persatuan bangsa.

Kekayaan dalam setiap budaya anak bangsa memiliki rentetan nilai perenial sosial yang dapat menjadi perekat kehidupan berbangsa dan bernegara, seperti saling pengertian, saling menghormati, relasi persaudaraan, komunikasi sosial, kerukunan, gotong royong, kerja sama, dan saling memaafkan.


Masukan-masukan ke dalam AI hendaknya mempertimbangkan sejumlah komentar atau pendapat yang dapat memecah belah atau meretakkan kesatuan dan persatuan bangsa. Pergeseran nilai dalam era digital tetap berusaha menghindari pelbagai bentuk pergesekan dan perbenturan sosial dalam masyarakat.

Dalam konteks Indonesia, jika perancang, peng-input data, trainer mesin-mesin AI, dan pengguna AI tidak menjunjung nilai dan prinsip etis humaniora dalam hidup sehari-hari, maka AI sebagai pisau bermata ganda akan melukai bangsa Indonesia yang kaya akan kebijaksanaan lokal yang menyejukkan hidup bersama sebagai sebuah bangsa.

Bahkan, perjalanan sejarah anak manusia akan berakhir dalam tangan AI yang berada di luar kendali manusia-manusia yang berhati nurani jernih, baik, dan benar. Akankah panorama distopia Yuval Noah Harari dalam Homo Deus (Manusia Tuhan) menjadi sebuah kenyataan?. ***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Jans Angkamor Bong

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X