Korban Tewas di Stadion Kanjuruan Akibat Terinjak-injak. LBH Sayangkan Penggunaan Gas Air Mata

photo author
Steve Vantax, Pontianak Globe
- Minggu, 2 Oktober 2022 | 15:17 WIB
Kerusuhan sepak bola Indonesia di Stadion Kanjuruhan menelan korban sebanyak129 orang. (Ilustrasi : Pikiran Rakyat)
Kerusuhan sepak bola Indonesia di Stadion Kanjuruhan menelan korban sebanyak129 orang. (Ilustrasi : Pikiran Rakyat)

PONTIANAKGLOBE.COM, MALANG - Setelah kekalahan tim tuan rumah, Arema FC, fans berlari ke lapangan dan dihadang oleh polisi, yang menggunakan gas air mata. Dalam kepanikan yang terjadi, banyak yang terinjak-injak, menyebabkan sedikitnya 150 orang tewas.

New York Time melaporkan, Lebih dari 150 orang tewas pada Sabtu malam, 1 Oktober 2022, setelah pertandingan sepak bola profesional di Malang, Indonesia, ketika para penggemar menyerbu lapangan. Serbuan penggemar membuat polisi menembakkan gas air mata ke kerumunan yang padat, menyebabkan banyak orang terinjak-injak, menurut pejabat setempat.

Setelah Arema FC kalah 3-2 dari Persebaya Surabaya, puluhan suporter menyerbu ke lapangan di Stadion Kanjuruhan, rumah Arema.

“Kerusuhan tersebut mendorong polisi untuk menembakkan gas air mata, yang menyebabkan kepanikan,” kata Kapolda Jatim, Inspektur Jenderal Nico Afinta pada konferensi pers seperti dikutip dari New York Time.

BACA JUGA: Desy Ratnasari: Pria Dekat Saya Harus Soleh, Sholat Benar, Tak Minum Alkohol. Ternyata Bukan David Chalik!

BACA JUGA: Pernah Dua Kali Gagal Berumah Tangga, Desy Ratnasari Merasa Takut. Kini Sudah Temukan Pria Cocok di Hati

Ada kebingungan tentang jumlah korban tewas - Komisi Nasional Hak Asasi Manusia yang didukung pemerintah mengatakan 153 orang tewas, sementara klub sepak bola Arema FC menyebutkan jumlahnya 182.

Kejadian ini menjadi paling mematikan dalam sejarah sepak bola. Sebelumnya pada tahun 1964, setidaknya 300 orang tewas di Peru setelah keputusan tidak populer oleh wasit pada pertandingan sepak bola memicu kerusuhan di stadion nasional negara itu.

Dalam pidato yang disiarkan televisi, Presiden Joko Widodo, mengatakan dia telah meminta Kapolri melakukan penyelidikan menyeluruh atas apa yang terjadi. Ia juga telah memerintahkan Menteri Pemuda dan Olahraga, Kapolri, dan Ketua Persatuan Sepak Bola Indonesia (PSSI) mengevaluasi keamanan pertandingan sepak bola.

“Saya menyayangkan tragedi ini terjadi,” kata Pak Joko. "Dan saya harap ini adalah tragedi sepakbola terakhir di negara ini."

Dalam sebuah pernyataan, LBH Indonesia mengatakan, “penggunaan kekuatan yang berlebihan melalui penggunaan gas air mata dan pengendalian massa yang tidak tepat adalah penyebab banyaknya korban jiwa.”

Dikatakan penggunaan gas air mata dilarang oleh FIFA, badan pengatur sepak bola dunia.

LBH Indonesia mengatakan masalah ini diperparah dengan kelebihan kapasitas.  

BACA JUGA: Astaga! Rizky Billar Gali Lobang Kubur Sendiri. KPI Larang Pelaku KDRT Tampil di Televisi

BACA JUGA: Denise Chariesta Ungkap Sosok R Tak Hanya Sekali Punya Kekasih Gelap, tapi Sudah  Sering

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Steve Vantax

Sumber: nytimes.com

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X