Mahfud MD, Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan, mengatakan panitia sepak bola setempat telah mencetak 42.000 tiket, lebih banyak dari kapasitas stadion yang 38.000.
Dia mengatakan para korban meninggal “karena terinjak-injak. ”Para korban diinjak-injak dan mati lemas. Tidak ada korban pemukulan atau penganiayaan terhadap suporter,” katanya.
Tim medis melakukan upaya penyelamatan di stadion dan kemudian mengevakuasi yang lain ke beberapa rumah sakit, kata Kepala Afinta pada konferensi pers.
PSSI menangguhkan permainan setidaknya selama seminggu. “Kami prihatin dan sangat menyayangkan kejadian ini,” kata Akhmad Hadian Lukita, Presiden Direktur PT Liga Indonesia Baru atau LIB. “Kami turut berduka cita dan semoga ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua.”
Kekerasan sepak bola telah lama menjadi masalah bagi Indonesia. Kekerasan, seringkali persaingan mematikan antara tim-tim besar adalah hal biasa.
Beberapa tim bahkan memiliki klub penggemar dengan apa yang disebut komandan, yang memimpin kelompok besar pendukung untuk pertandingan di seluruh Indonesia.
Suar sering dilemparkan ke lapangan, dan polisi anti huru hara selalu hadir di banyak pertandingan. Sejak 1990-an, puluhan penggemar tewas dalam kekerasan terkait sepak bola.
Belum diketahui apa yang terjadi saat para suporter tumpah ruah ke lapangan, namun terlihat jelas bahwa penggunaan gas air mata di tengah kerumunan tanpa cara untuk melarikan diri membuat situasi tegang semakin parah.
“Gas air mata itu berlebihan,” kata Suci Rahayu, seorang fotografer yang berada di dalam stadion. “Banyak orang pingsan. Jika tidak ada gas air mata, tidak akan ada kerusuhan seperti itu.”
Dalam sebuah pernyataan, LBH Indonesia mengatakan, “penggunaan kekuatan yang berlebihan melalui penggunaan gas air mata dan pengendalian massa yang tidak tepat adalah penyebab banyaknya korban jiwa.” Dikatakan penggunaan gas air mata dilarang oleh FIFA, badan pengatur sepak bola dunia.
“Penggunaan gas air mata yang tidak sesuai dengan prosedur pengendalian massa mengakibatkan pendukung di tribun berdesak-desakan untuk pintu keluar, menyebabkan mereka sesak napas dan pingsan dan saling bertabrakan,” kata kelompok itu.
Di Twitter, seorang pengguna mengunggah video yang menunjukkan para penggemar memanjat pagar saat mereka mencoba melarikan diri dari awan gas air mata.
Dalam video tersebut terdengar orang-orang memaki polisi. Pengguna Twitter menandai Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma'ruf Amin, mengatakan bahwa penembakan gas air mata telah menyebabkan kematian.
Artikel Terkait
127 Orang Meninggal saat Rusuh di Stadion Kanjuruhan Malang. Media Inggris Ikut Memberitakan dan Ucapkan Duka
Manajemen Arema FC Sampaikan Duka Cita atas Kerusuhan di Kanjuruhan, Siap Beri Santunan dan Buat Crisis Centre
Kerusuhan di Kanjuruhan Terparah Dalam Jumlah Korban Jiwa. Bahkan Dibandingkan Tragedi Heysel dan Hillsborough
PSSI Sanksi Arema FC Tak Boleh Jadi Tuan Rumah Liga 1, Buntut Rusuh di Stadion Kanjuruhan Tewaskan 153 Orang
Timeline: Kerusuhan Besar di Stadion Sepak Bola Selama 40 Tahun Terakhir Menelan Banyak Korban Termasuk Malang
Korban Tewas di Stadion Kanjuruhan Malang karena Terinjak-injak ketika Arema FC Bertemu Persebaya di Liga 1