Santa Teresia dari Avilla, Perawan Mistisi dan Pujangga Gereja Katolik

photo author
Steve Vantax, Pontianak Globe
- Sabtu, 15 Oktober 2022 | 12:32 WIB
Ilustrasi: Santa Teresa dari Avila di jendela gereja Convento de Sta Teresa, Avila de los Caballeros, Spanyol. (net)
Ilustrasi: Santa Teresa dari Avila di jendela gereja Convento de Sta Teresa, Avila de los Caballeros, Spanyol. (net)

PONTIANAKGLOBE.COM -- Sahabat Katolik, hari ini, Jumat 15 Oktober 2022, umat Katolik sedunia merayakan pesta seorang santa yang bernama Santa Teresia dari Avilla.

Santa Teresia dari Avilla terlahir dengan nama Teresa Sanchez Cepeda Davila y Ahumada di Avilla, Spanyol Tengah pada 28 Maret 1515.

Santa Teresia dari Avilla dikenal sebagai salah seorang mistisi besar Gereja dan bersama Santa Katarina dari Siena digelar sebagai Pujangga Gereja.

Santa Teresia dari Avilla terkenal sebagai pembaharu corak hidup membiara di kalangan Ordo Suster-suster Karmelit.

Masa aktifnya sebagai seorang Suster Karmelit dimanfaatkannya dengan banyak menulis literatur-literatur mistik Katolik yang bernilai tinggi.

Dari buku autobiografinya, kita mengetahui banyak hal tentang kehidupannya sendiri dan keluarganya.

Orang-tuanya saleh dan disiplin namun tidak kaku, dermawan tetapi tidak pemboros.

Teresa adalah anak ketiga dari 9 orang bersaudara dari perkawinan kedua ayahnya, Alfonso Sanchez de Cepeda, dengan Beatrice Davila y Ahumada.

Bila digabung dengan anak-anak dari perkawinan pertama ayahnya, mereka ada 12 orang bersaudara.

Di rumah, Teresa mendapat pendidikan yang baik sehingga membuat dia berkembang menjadi seorang puteri yang riang dan sangat aktif.

Pernah suatu hari dalam umur tujuh tahun, ia bersama kakaknya Rodrigo bertekad pergi ke Afrika agar mati sebagai martir, karena mendengar berita penganiayaan orang-orang Kristen di sana oleh orang-orang Moor.

Tetapi mereka dihadang oleh pamannya dan dipaksa kembali ke rumah.

Semakin besar, Teresa semakin cantik dan menarik. Penampilannya sangat menyerupai ibunya. Hanya saja, ia sadar akan keelokan wajahnya dan akan jiwanya yang pesolek dan senang dikagumi.

Ayahnya cemas sekali akan perkembangannya, sehingga cepat-cepat menyekolahkan dia di sebuah sekolah puteri yang dikelola oleh Suster-suster Santo Agustinus.

Di sana ia tinggal di asrama dengan disiplin yang keras. Cara hidup di dalam asrama itu membuat ia insyaf akan perilakunya yang kurang pada tempatnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Steve Vantax

Sumber: imankatolik.or.id, katakombe.org

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X