Pada bulan September 1936, Padre Mariano Pinho SJ menyampaikan hal ini kepada Kardinal Eugenio Pacelli (kelak menjadi Paus Pius XII) dan enam tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 31 Oktober 1942, Paus Pius XII mempersembahkan dunia kepada Hati Maria yang Tak Bernoda dengan mempergunakan gelar-gelar seperti diwahyukan kepada Alexandrina: “Ratu Alam Semesta, Ratu Rosario Tersuci, Pengungsian Umat Manusia, Pemenang dalam Semua Pertempuran Allah.”
Sejak 3 Oktober 1938 hingga 27 Maret 1942, Alexandrina mengalami tiga jam “sengsara” Yesus setiap hari Jumat.
Ia menerima rahmat mistik untuk mengalami dalam tubuh dan jiwanya sengsara Kristus di jam-jam terakhir hidup-Nya.
Selama tiga jam ini kelumpuhannya lenyap. Dalam ekstase ia mampu bangun dari tempat tidur, dan mengalami kembali sengsara Kristus selama tiga jam dalam penderitaan jasmani dan rohani yang luar biasa.
Pada tanggal 27 Maret 1942, Alexandrina menerima karunia Inedia, yaitu hidup tanpa makanan apapun selain Ekaristi Kudus.
Keadaan ini berlangsung selama tiga belas tahun tujuh bulan, sampai hari kematiannya. Dalam suatu ekstasi Yesus mengatakan kepada Alexandriana: “Engkau tidak akan menyantap makanan lagi di dunia. Yang akan menjadi makananmu adalah Daging-Ku; yang akan menjadi darahmu adalah Darah Ilahi-Ku, yang akan menjadi hidupmu adalah Hidup-Ku. Engkau menerimanya dari-Ku bilamana Aku mempersatukan Hati-Ku dengan hatimu. Janganlah takut, puteri-Ku. Engkau tidak akan disalibkan lagi seperti di masa lalu.... Dan sekarang suatu pencobaan baru menantimu, yang akan menjadi yang paling menyakitkan dari semua. Tetapi, pada akhirnya Aku akan membawamu ke Surga dan Bunda Tersuci akan menemanimu.”
Salesian Awam
Pada tahun 1944, Alexandrina bertemu dengan Padre Umberto Pasquale SDB, seorang imam Salesian yang kemudian menjadi pembimbing rohani dan penulis biografinya.
Padre Pasquale menanyakan apakah Alexandrina bersedia membaktikan sebagian dari penderitaannya dan doa-doanya yang tak kunjung henti bagi keselamatan kaum muda.
Alexandrina segera menyanggupi dan pada tanggal 26 Februari 1945, ia resmi menjadi anggota Association of Salesian Cooperators (ASC), atau Ordo ketiga Salesian (Salesian awam).
Alexandria sangat bersuka-cita dan kepada segenap komunitas Salesian, Alexandrina menulis: “Di atas segalanya, jadilah yang terkecil. Taat buta. Jangan pernah berdosa. Menderita dalam diam. Kasihilah Yesus. Kasih, hanya kasih! ”
Akhir Perjalanan
Sejak awal tahun 1955 kondisi kesehatan Alexandrina semakin memburuk.
Pagi-pagi benar pada tanggal 13 Oktober 1955, pada peringatan 38 tahun penampakan terakhir Santa Perawan Maria di Fatima dan mukjizat matahari, Alexandrina menerima serangkaian penglihatan akan Hati Maria yang tak bernoda dengan lembut meyakinkannya, “Aku akan segera membawamu.”
Melalui suatu cahaya putih ia mendengar Yesus berkata, “Engkau termasuk dalam bilangan para kudus-KU.” Dan juga suara Bapa yang kekal, “Inilah puteri Kita yang terkasih.”
Menjelang pukul 8 pagi, Alexandrina menyambut Komuni Kudus, komuninya yang terakhir, dengan kasih dan devosi yang berkobar. Kemudian, sementara keheningan kamar bergetar dengan sanak saudara, para imam dan para peziarah yang berdoa, Alexandrina menyampaikan kepada mereka dan kepada segenap umat manusia:
“Jangan berdosa. Kesenangan hidup ini tak bearti apapun. Sambutlkah Komuni, berdoalah Rosario setiap hari. Ini meringkas semuanya.”
Artikel Terkait
Santo Eduardus, Raja Inggris dan Pengaku Iman
Santo Gerald of Aurillac, Memilih Hidup Saleh Walau Bukan Bergabung sebagai Anggota Ordo
Santo Paus Yohanes XXIII Pencetus Konsili Vatikan II
Santo Wilfridus, Uskup dan Pengaku Iman. Keberanian Lawan Adat Istiadat dan Liturgi Klerik
Santo Felix dari Afrika Utara. Dibuang ke Padang Gurun Libya agar Mati Kelaparan dan Kehausan