Halangan baru telah menunggunya, yaitu keberadaan ‘ajaran yang berkembang’.
Ibrani 1:1 menyatakan bahwa pada jaman dahulu Allah berulangkali dan dalam berbagai cara berbicara kepada umat manusia lewat perantaraan para nabi. Belum ada pemberian kebenaran iman secara tertulis dan tersusun rapi.
Walau demikian, ajaran-ajaran itu diajarkan oleh para nabi dan dihayati, dan dikumpulkan dalam kurun waktu ratusan tahun. Kemudian, mengalami perubahan melalui wahyu-wahyu baru. Sehingga, makin lama makin lengkap. Allah mempersiapkan kedatangan Mesias (Kristus).
Kristus (Mesias) merupakan kepenuhan dari Perjanjian Lama (Mat 5:17). Kristus sendiri mengajarkannya kepada para Rasul. Kitab Suci menyatakan bahwa setelah kematian Rasul yang terakhir tidak ada wahyu yang terjadi.
Para Rasul meneruskan secara utuh kebenaran iman yang telah diterima dari Kristus kepada para Bapa Gereja. Iman tersebut diwariskan secara terus-menerus kepada umat manusia hingga saat ini.
Para musyafir dapat menerima penjelasan ini. Mereka melihat sejumlah ajaran yang berkembang dari waktu ke waktu. Itu berarti Gereja Katolik belum memurnikan ‘deposit’ iman yang asli.
Bagaimana penjelasan Gereja Katolik? Dari wktu ke waktu (abad) apa yang diimani Gereja Katolik dapat dilihat sebagai hasil perkembangan pemahaman yang lebih mendalam terhhadap apa yang diterima sebelumnya.
Diklarifikasi dan dipastikan tidak ada yang diubah atau diganti. Apa yang telah ditetapkan final di masa lalu tetap dipegang. Tidak ada doktrin lama yang dicopot dan diganti yang baru. Namun, ditambahkan pemahaman yang lebih penuh.
Penjelasan seperti ini tentu belum final. Tetapi paling tidak dapat digunakan sebagai titik tolak bagi mereka yang ingin tetap berdiri kokoh di hadapan para ‘penyerang’ iman Katoliknya sembari semakin mengasah diri dengan tulisan-tulisan yang lebih bermutu serta pemikiran teologis yang lebih mendalam.
Semoga!
Pakem Tegal, 8 Agustus 2022
Sumber: Karl Keating, 1988, Catholicism and Fundamentalism: The attack on ‘Romanism’ by ‘Bible Christians. San Francisco: Ignatius Press)
* Penulis adalah pensiunan dosen di FKIP Untan. Menyelesaikan program doktor di Monash University, Australia. Penerima Colombo Plant Scholarship.