Bill Alkire pun menemukan berbagai doktrin Katolik dalam tulisan para Bapa Gereja itu. Jelajah lebih dalam ditemukan bahwa doktrin-doktrin Katolik bertebaran dalam tulisan para Bapa Gereja. Di antaranya adalah doktrin Trinitas dan doktrin Keilahian Yesus.
Kelokan-kelokan yang disusuri belum membuat Bill Alkire ini bertemu dengan jalan yang mulus. Tetapi, justru membawanya ke situasi depresi klinis beberapa tahun (1982-1985).
Iman akan Allah lenyap. Cinta menjadi khayalan belaka. Harapan kebahagiaan diganti dengan kesengsaraan.
Dalam sempoyongannya itu, Bill Alkire dibimbing-Nya ke sebuah biara Trapis Getsemani.
Irama liturgis yang tenang dapat menenangkan kembali jiwanya. Iman akan Kristus muncul kembali.
Perjalanan spiritual Bill belum berakhir. Ia berhadapan dengan ketidakpastian teologis.
Bill tidak mampu menetapkan bahwa tafsiran Kitab Suci yang ia buat benar. Padahal keputusannya itu untuk menggembalakan Gerejanya.
Situasi ini, membuat langkah Bill mendekat ke pintu taman Gereja Katolik. Lilin kecil mulai meneranginya. Ia terusik dengan peringatan rasul Petrus (2Ptr 1:20-21, dan 3:15).
Ia berkesimpulan bahwa orang Kristen tidak pernah dalam Kitab Suci sebagai para ‘petualang yang sendirian’ dibiarkan memutuskan sendiri apa makna Kitab Suci bagi mereka sendiri-tanpa panduan pengajaran dari Gereja.
Peringatan rasul Paulus kepada umat Kristen perdana mulai bergema di hati Bill Alkire. “Aku menasihatkan kamu, ...., demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, supaya kamu seiya-sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu, sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir” (1Kor 1:10).
Angin kuat berhembus di depan Bill Alkire yang masih berdiri di depan jendela rumah ketika ia mengajak Rm Peter Stravikas, 23 Mei 1990, menjadi tamunya dalam acara ‘Jawaban Katolik terhadap pertanyaan Katolik’ dalam program mingguan di sebuah statsiun radio yang diasuhnya.
Penjelasan Romo ini tentang doktrin-dontrin Katolik sangat masuk akal dan mencerahkan hati Bill Alkire. Penjelasan Romo Peter Stravikas dengan sangat alkitabiah dirasa menuntunnya menuju pintu rumah-Nya.
Kamis Putih 1992, Bill resmi menjadi anggota Gereja Roma.
Malam Paskah 1992, Sally, istrinya, beserta anak-anak mereka: Alexis, Nicholas, James, serta Evan menjadi malam kenangan dan kebahagiaan. Bill Alkire sekeluarga sudah sungguh pulang, dan masuk ke dalam rumah-Nya.
Jalan panjang melalui hidup doa dan intensif mempelajari Kitab Suci, Sejarah Gereja, serta karya-karya apologetik Katolik dan Evangelis, memandu si musyafir ini dapat menemukan rumah-Nya, Gereja Roma.
Artikel Terkait
Para Musyafir Pulang ke Roma (Bagian-1): Ricard Wood, Merasakan Dorongan Lembut untuk Berlutut dan Berdoa
Para Musyafir Pulang ke Roma (bagian-2): David Minirth Terpesona Familiaris Consortio, Paus Yohanes Paulus II
Para Musyafir Pulang ke Roma (Bagian-3): Jack Amstrong Menjadi Percaya Setelah Mendalami Sejarah
Para Musyafir Pulang ke Roma (Bagian-4): Bill Alkire dapat Pencerahan Setelah Berdebat dengan Pria Lusuh