Tentu, ucapan tersebut sangat menyinggung perasaan Bill Alkire muda. Apalagi diucapkan oleh orang yang tidak dikenal.
Mereka terlibat adu debat seru. Lawan debat Bill Alkire ternyata rendah hati, santun, serta anggun, walau tampilannya sangat lusuh. Bukan sombong seperti yang diduganya semula.
Bill Alkire justru mendapat pencerahan. Orang tua itu menjelaskan bahwa manusia tidak akan mencapai kedamaian bersama Allah dengan usahanya sendiri.
Ia harus menjadi seperti anak kecil. Datang kepada Yesus. Dan, Ia akan menyelamatkannya.
Bill Alkire menjadi takut. Ia sadar bahwa dirinya berada di sisi yang salah. Di tahun 1973, Bill masuk menjadi mahasiswa Michigan State University. Ia juga lebih intensif membaca Kitab Suci.
Suatu waktu Bill sangat terpukul oleh pesan Yesaya (Yes 47:8-10).
“Hai, kamu orang yang hidup bermanja-manja, yang duduk tenang dan berkata dalam hati, ‘Tiada lain yang ada di sampingku. Aku tidak akan menjadi janda dan akan punah’ ....Kedua itu akan menimpa engkau dalam sekejab mata....”
Bill Alkire merasa bersalah. Tetapi, juga tidak dapat menghindar dari Yesus. Sebaliknya, justru selalu memanggil-Nya. “Yesus, Yesus, Yesus, Tunjukkan saya buku yang dapat menuntun saya memahami Kitab Suci lebih baik dan benar”.
Walau begitu suara hatinya, ‘dapat membaca dan m emahami Kitab Suci dengan baik dan benar’, Bill Alkire belum berkeinginan masuk ke Gereja Katolik.
Puluhan tahun ia mengembara menyusuri kelak-kelok lorong berbagai denominasi, yang mengajarkan Sola Scriptura -- hanya Kitab Suci semata (yang benar). Sampai saat itu, Bill Alkire masih kuat memegang pendapat bahwa Gereja Katolik tidak alkitabiah.
Namun, dalam kepelayanannya, Bill Alkire sering menemukan perbedaan tafsiran para gembala, teman sejawatnya.
Ia pun semakin kuat terdorong untuk mencari ‘yuri’ yang dapat menetapkan kebenaran, di antara perbedaan penafsiran semacam itu.
Bill Alkire mulai mempelajari berbagai buku baik dari penulis anti-Katolik maupun Katolik.
Dalam peninjauannya tentang keyakinan-keyakinan Gereja, ia menemukan bahwa para Bapa Gereja tidak ragu-ragu mencari bantuan otoritas Kitab Suci.
Mereka juga tertarik pada tradisi Gereja yang otoratif yang diwarisi secara suksesi, melalui para uskup dan dapat ditarik kembali sampai pada para rasul.
Artikel Terkait
Para Musyafir Pulang ke Roma (Bagian-1): Ricard Wood, Merasakan Dorongan Lembut untuk Berlutut dan Berdoa
Para Musyafir Pulang ke Roma (bagian-2): David Minirth Terpesona Familiaris Consortio, Paus Yohanes Paulus II
Para Musyafir Pulang ke Roma (Bagian-3): Jack Amstrong Menjadi Percaya Setelah Mendalami Sejarah
Para Musyafir Pulang ke Roma (Bagian-4): Bill Alkire dapat Pencerahan Setelah Berdebat dengan Pria Lusuh