Para Musyafir Pulang ke Roma (Bagian-1): Ricard Wood, Merasakan Dorongan Lembut untuk Berlutut dan Berdoa

photo author
Steve Vantax, Pontianak Globe
- Kamis, 22 September 2022 | 21:22 WIB
Leo Sutrisno (Pontianak Globe)
Leo Sutrisno (Pontianak Globe)

Namun, bisikan itu berulang, bahkan, lebih tegas ‘Zakharia 14!’.
Ia berguman ‘Sekarang pukul 01 dini hari. Saya belum tidur. Besok pagi akan pinjam kawan’

‘Tidak!. Harus sekarang!’ Terdengar bisikan yang lebih keras di hatinya. Jantungnya berdetak cepat. Richhard teringat Kitab Suci kawannya yang tertinggal di meja belajar.

“Sesungguhnya, akan datang hari yang ditetapkan Tuhan.....” (Zakharia 14:1-21). Berulang kali periskop itu dibaca. Dan, Richard mulai gemetar.

Setelah menelentangkan tubuhnya di tempat tidur, ia berbisik, “Saya tidak tahu apa yang baru saja terjadi. Tetapi, ini sungguh mengguncang pikiran. Saya tidak dapat menghadapinya sekarang. Biarkan saya tidur”. Richard pun segera tertidur.

Ia mencoba melupakan peristiwa itu. Beberapa minggu kemudian Richard merasa Yesus mulai menampakkan diri-Nya. ‘Ia datang mencari saya’.

Namun, Richard tidak serta merta meninggalkan kehidupan hedonisnya. Ia tak tahu bagaumana menggunakan gelar sarjana agama. Ia pun kuliah lagi di fakultas hukum, Universitas New York.

Di fakultas hukum ini Bertemu Romo Joseph Malagreca. Mereka berkawan baik. Richard dapat menumpahkan kegalauan hati antara menolak dan menerima Yesus.

Oleh Ramo Joseph, Richhard dikenalkan dengan kelompok Karismatik Katolik ‘People of Hope’, di New Jersey. Ia pun mengikuti retret, satu minggu.

Menjelang retret berakhir, ia nekad ikut menerima komuni. Setelah misa, pastor pemimpin misa tadi mendekatinya dan pelan-pelan berkata, “Richard jangan kau ulangi perbuatan tadi”.

Namun, Richard justru melawan. Ilmu agama dikuatkan ilmu hukum yang sedang dipelajari digunakan untuk mendebat pastor dengan kasar. Tetapi, pastor tetap tenang.

Kenyataan itu membuat Richard panas hati dan berkata kasar kepada pastor. Pergilah ke kapel, merebahkan dirinya di lantai di depan altar. Mencurahkan air mata marah dan frustasi.

Dalam suasana marah tangannya tergerak untuk membuka Injil halaman demi halaman tanpa tujuan.

Jarinya berhenti pada Mateus 12: 34.

“Hai kamu keturunan ular beludak, bagaimanakah kamu dapat mengucapkan hal-hal yang baik, sedangkan kamu sendiri jahat”.

Richard sadar bahwa Allah marah kepadanya. Richard menambah satu minggu di rumah retret People of Hope. Banyak kejadian di luar kontrolnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Steve Vantax

Sumber: Catholic-the best way to Christ

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X