Jiwa yang berkurban (Victim Soul)
Selama tahun-tahun awal kelumpuhannya, Alexandrina berdoa dengan tekun meminta rahmat kesembuhan.
Demi penyembuhannya, Alexandrina bernazar akan menjadi seorang misionaris, ia juga berjanji untuk membagi-bagikan segala yang ia miliki, memotong rambutnya dan mengenakan pakaian berkabung sepanjang hidupnya, asal saja ia disembuhkan dari kelumpuhan.
Sampai usianya 19 tahun, Alexandrina masih bisa "menyeret dirinya" ke gereja di mana, sambil membungkuk, dia akan tetap berdoa, yang membuat umat paroki takjub.
Akan tetapi kondisinya semakin memburuk hingga gerakan sekecil apapun akan membuatnya kesakitan.
Sejak tanggal 14 April 1924 hingga akhir hayatnya ia lumpuh total dan tetap terbaring di atas pembaringan. Ia beberapa kali berada di ambang maut dan menerima Sakramen Pengurapan Orang Sakit.
Setelah beberapa tahun berlalu, perlahan-lahan Alexandrina dapat melihat bahwa ia menerima panggilan istimewa untuk menjadi kurban bagi Tuhan.
Semakin ia memahami panggilan hidupnya ini, semakin ia berpasrah dan bersukacita menerimanya.
Ia lalu mempersembahkan diri kepada Tuhan sebagai jiwa yang berkurban demi pertobatan orang-orang berdosa.
Penyerahan dirinya pada semua kehendak Tuhan membuatnya dikaruniai berbagai penampakkan Tuhan Yesus dan Hati Maria yang Tak Bernoda.
Karunia-karunia Rohani
Pada 20 November 1933, ia menerima penampakkan Tuhan Yesus di dalam kamarnya sesaat setelah merayakan misa kudus bersama pembimbing rohaninya, Padre Pinho SJ.
Saat ini kamar tersebut telah menjadi tujuan peziarah umat Katolik dari berbagai penjuru dunia.
Pada 6 September 1934, Alexandrina mengalami ekstasi rohani yang luar biasa, di mana suara Kristus yang penuh belas kasih mengundangnya untuk mendekati Hati-Nya yang Mahakudus dan ikut ambil bagian dalam dahsyatnya api derita penebusan-Nya.
Dalam beberapa ekstasi rohani, Yesus mempercayakan kepada Alexandrina untuk menyebarluaskan pesan Santa Perawan Maria dari Fatima.
Pada suatu pagi setelah menyambut Komuni kudus, Alexandrina mengalami ekstasi rohani dan kembali menerima penampakkan Tuhan Yesus yang berkata kepadanya: “Dengan kasih yang engkau miliki bagi BundaKu Tersuci, katakanlah kepada pembimbing rohanimu bahwa sebagaimana Aku meminta Margareta Maria (Santa Margareta Maria Alacoque) berdevosi kepada Hati Ilahi-Ku, demikianlah Aku memintamu untuk mendorong penyerahan dunia kepada Hati BundaKu yang tak bernoda.”
Sejak hari itu, Alexandrina mempersembahkan dirinya sebagai kurban demi tercapainya tujuan ini.