religi

Para Musyafir Pulang ke Roma (Bagian-9): Kitab Suci Diilhami dan Satu-satunya Sumber Kebenaran Iman?

Sabtu, 1 Oktober 2022 | 07:05 WIB
Salib, sebagai tanda kemenangan bagi umat Kristen. Dalam perjalanan pulang spitualitas ke Roma, tak jarang lika-liku, persimpangan serta jalan terjal dilalui.

Hasil telaah teks-teks Kitab Suci serta  teks-teks non-blibis lainnya, menunjukkan bahwa Yesus bukan sekedar orang baik yang luar biasa atau orang gila, seperti yang dipikirkan oleh kelompok anti katolik.

Fakta-fakta historis, arkeologis, medis, psikologis memastikan bahwa Yesus benar-benar wafat dan bangkit dari kematian-Nya. Karena itu Ia benar-benar Allah.

Salah satu yang diucapkan-Nya adalah ‘mendirikan Gereja. Bukti historis menunjukkan bahwa Gereja yang didirikan Yesus mempunyai dasar-dasar yang ditemukan di Gereja Katolik, memiliki Hirarki dan infalibilitas –tidak dapat salah. Ini fakta historis, ilmiah murni.

Gereja Katolik menyatakan bahwa Kitab Suci diilhami dan karena Gereja Katolik mempunyai sifat infalibilitas maka orang Katolik mengakui bahwa Kitab Suci diilhami.

Para musyafir dapat menerima penjelasan ini karena argumentasi jelas dan masuk akal. Tetapi, belum selesai. Mereka, selanjutnya, mempertanyakan  keberadaan otoritas lain selain Kitab Suci yang tidak dapat salah mengajar.

                                                      .......

Sebagai konsekuensi dari prinsip Sola Scriptura, mereka berpendapat bahwa tidak ada otoritas lain yang menjadi Sumber Kebenaran Iman kecuai Kitab Suci. Dan, itu dimiliki oleh Gereja Katolik.

Dua ayat yang mereka gunakan sebagai titik tolak, yaitu  Yoh 20:31 dan 2Tim 3:16. Bagi mereka kedua ayat ini dengan jelas menunjukkan keberadaan Sola Scriptura.

Sebaliknya, bagi orang Katolik, selain Kitab Suci, Tradisi (Suci) juga sumber kebenaran iman.  Tradisi dalam pengertian orang Katolik adalah ajaran dan otoritas mengajar dari Yesus dan diteruskan oleh para rasul.

Dalam Gereja Katolik, Tradisi (Suci) dan Kitab Suci berhubungan erat sekali. Keduanya mengalir dari sumber ilahi yang sama. Dengan cara tertentu keduanya bergabung menuju ke tujuan yang sama.

Berpegang pada Mat 15:3, para musyafir menolak keberadaan tradisi juga sebagai sumber kebenaraan iman. Karena, Yesus sendiri mengutuk keberadaan tradisi. Lihat juga Kol 2:8.

Dalam 1Kor 3:3-11, Rasul Paulus menggambarkan secara jelas apa yang dimaksud ‘Tradisi’. Dan, dalam 2Tim 2:2, Rasul Paulus menyatakan apa yang harus dilakukan, yaitu kita harus berpegang pada Tradisi Suci.

Tetapi, jika ditelaah lebih dalam ternyata Yesus dan Paulus ini berbicara tentang tradisi (dengan hurup ‘t’), yaitu ‘tradisi manusia’ –adat istiadat nenek moyang (Mat 15:3) dan ajaran turun-temurun dn roh-roh dunia (Kol 2:8). Bukan Tradisi Suci.  

Dengan membedakan antara Tradisi (Suci) dari tradisi manusia kiranya sebagian musyafir pencari jalan ke Roma terus bersedia melanjutkan usahanya.

                                                            .....

Halaman:

Tags

Terkini