Saya ini hanyalah orang kampung (Gembel) yang dengan campur tangan Ilahi mendapat kesempatan belajar di Uni-Eropa.
Jalan Ilahi selalu beda dengan pikiran dan rencana manusia.
Lepas dari itu, ada satu hal lain yang membuat saya merasa bangga bisa kenal dengan Padre Marco adalah, beliau ini adalah satu-satunya orang Indonesia dan orang Indonesia pertama yang bekerja di Kuria Tahta Suci dan negara Vatikan.
Negara paling kecil di dunia, yang mempunyai kedaulatan serta mempunyai teritori utama seluas 0,44 Kilometer persegi, dan sekaligus ekstra teritori di Kota Roma dan sekitarnya.
Negara kecil di bawah pimpinan Paus Fransiskus kelahiran Argentina ini terkenal sangat kuat pengaruhnya untuk sejarah dan peradaban dunia hingga saat ini.
Bagaimana tidak, saya yang dilahirkan dari keluarga yang bukan ningrat, apalagi mapan, kok bisa-bisanya saya diberikan beasiswa full oleh Vatikan.
Rasanya tidak bosan-bosan untuk berkata: Saya bukan siapa-siapa. Saya bukan pimpinan organisasi, bukan anak kiai, dan bukan anak tokoh ini. Dalam hal ini, saya kadang merasa bahwa dunia sudah mulai terbalik....!!!
Hanya dengan bermodalkan semangat dan keinginan saja saya berangkat tinggalkan kampung halaman dan belajar hal-hal baru menyangkut keagamaan di Kota Roma ini.
Lain-lainnya, tidak ada.
Bahkan saya ingat betul modal awal saya ketika berangkat ke Kota Roma.
Tanpa Sponsor!
Untungnya Tuhan itu maha baik.
Dalam proses persiapan perjalanan menuju Roma, saya dibantu secara full oleh Bapak Kardinal Suharyo, Bapak Uskup Paskalis Bruno Syukur OFM, Bang Melki Laka Lena, juga Pak Putut Prabantoro.
Betapa saya berterima kasih kepada mereka. Tanpa mereka, saya tidak mungkin sampai di sini.