religi

Semakin Mengasihi dan Lebih Peduli, Surat Gembala APP Keuskupan Agung Pontianak 2023

Sabtu, 25 Februari 2023 | 20:42 WIB
Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus. (Pontianak Globe/Steve Vantax)

Saudara-saudari umat kristiani yang terkasih.

Di antara segala ciptaan, manusia adalah satu-satunya mahluk yang diciptakan menurut citra Allah( Kej.1,27).

Sebagai citra, atau gambar Allah, manusia adalah rekan kerja Allah dalam "mengusahakan dan memelihara ciptaan" ( bdk.Kej.2:15 ).

Ketika para Missionaris katolik pertama berkarya di bumi Kalimantan, pada permulaan abad ke- 19, yang pertama-tama mereka lakukan selain membuka sekolah-sekolah dan rumah sakit, mereka juga membawa bibit karet unggul di daerah Sejiram, Kabupaten Kapuas Hulu. Mendirikan pelatihan pertanian bagi petani tradisional. Artinya sangat jelas bahwa para missionaries tersebut sudah melihat sangat jauh kedepan bahwa masyarakat yang tinggal di kawasan hutan, tidak bisa bertahan dengan cara bertani yang tradisional dan memberikan jalan keluar yang nyata agar mereka terbebaskan dari belenggu kemiskinan.

Perhatian dan kepedulian gereja nyata terhadap masalah-masah sosial-ekonomi sangat dirasakan, bukan hanya oleh orang katolik tetapi masyarakat lain tanpa membeda-bedakan.

Saudara-saudari umat kristiani yang terkasih.

Tuhan Yesus karena kasihnya yang tanpa batas, rela menderita dan wafat dikayu salib agar kita, manusia yang penuh dosa ini bisa diselamatkan.

Kita hidup dan selamat karena kasih Tuhan.

Dalam masa tobat ini, baiklah kita renungkan, bagaimana kita dapat membalas kasih Tuhan itu.

Dalam Injil Mateus 25:40 dikatakan "sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang saudaraku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku".

Dalam hubungannya dengan tema keadilan Ekologis bagi seluruh ciptaan, sebagai ungkapan kasih kita kepada Tuhan Yesus, maka sangat wajar kita juga dipanggil untuk lebih peduli dan dan lebih mengasih "saudara-saudariku yang menjadi korban dari ketidak adilan dalam "mengusahakan dan memelihara" ciptaan. Mereka ini juga bisa kita golongkan sebagai "saudaraku yang paling hina" karena pada kenyataannya mereka tidak dianggap atau diperhitungkan.

Tentu ini sesuai dengan perandan kedudukan kita masing-masing dalam masyarakat, baik sebagai pribadi, maupun sebagai bagian dari kelompok-kelompok /lembaga/organisasi/institusi dan lain-lain. Sebut saja misalnya, selain pribadi, bisa juga sebagai keluarga, Paroki, Keuskupan, Lembaga-lembaga Pendidikan dari SD sampai Perguruan Tinggi, Rumah Sakit/Klinik Kesehatan, Lembaga Hidup Bhakti, dunia bisnis, Kelompok-kelompok/Komunitas gerakan.

Semua diundang untuk lebih peduli dan lebih aktif lagi dalam melindungi alam ciptaan dan saudara-saudara "yang paling hina" yang rentan dan tersingkir akibat "krisis iklim" ini.

Kita juga dipanggil untuk berani menyuarakan jeritan-jeritan dan membela orang-orang kecil yang menderita akibat kebijakan-kebijakan yang diambil dalam pengelolaan dan pemeliharaan alam ciptaan yang masih jauh dari "berkeadilan".

Dalam menjalani masa tobat ini, marilah kita renungkan kembali firman Tuhan ini:

Halaman:

Tags

Terkini