PONTIANAKGLOBE.COM, PONTIANAK -- Tradisi Goa Maria berakar pada peristiwa penampakan Bunda Maria di Lourdes, Prancis, tahun 1858.
Bunda Maria menampakkan diri kepada Santa Bernadette Soubirous di Gua Massabielle sebanyak 18 kali, menyampaikan pesan untuk berdoa, bertobat, dan membangun kapel di lokasi itu.
Baca Juga: Es Krim Unik Jack’s Gelato Jadi Ikon Kuliner Cambridge
Inspirasi inilah yang menyebar ke seluruh dunia.
Umat Katolik kemudian membangun replika gua sebagai tempat doa dan peziarahan, sering disebut “Lourdes Lokal.”
Perkembangan di Indonesia
Masuknya tradisi Goa Maria ke Indonesia dibawa oleh para misionaris Katolik pada awal abad ke-20.
Goa Maria pertama di Indonesia diyakini adalah Goa Maria Sendangsono (Yogyakarta), yang diberkati pada 1929 oleh Pastor van Lith, SJ, di tepi Sungai Progo.
Sendangsono kemudian dikenal sebagai “Lourdes-nya Indonesia” dan menjadi pusat ziarah nasional.
Setelah itu, Goa Maria dibangun di berbagai keuskupan di Indonesia—biasanya di lokasi yang tenang, dekat alam, dan mudah diakses umat untuk berziarah.
Baca Juga: Kebijakan WFO dan Krisis Childcare Dorong Perempuan Keluar dari Pekerjaan
Adapun Fungsi Goa Maria di Indonesia, antara lain sebagai berikut:
Tempat Doa dan Devosi – Terutama doa rosario, doa novena, atau doa pribadi.
Tujuan Ziarah – Ramai dikunjungi pada bulan Mei (Bulan Maria) dan Oktober (Bulan Rosario).
Ruang Refleksi – Suasana tenang membuatnya cocok untuk retret pribadi atau komunitas.