Kebijakan WFO dan Krisis Childcare Dorong Perempuan Keluar dari Pekerjaan

photo author
Steve Vantax, Pontianak Globe
- Senin, 11 Agustus 2025 | 07:35 WIB
Ilustrasi tempat atau fasilitas sekolah bagi anak usia dini. (Unplash @GautamaArora)
Ilustrasi tempat atau fasilitas sekolah bagi anak usia dini. (Unplash @GautamaArora)

PONTIANAKGLOBE.COM, PONTIANAK -- Gelombang mundurnya karyawan perempuan dari dunia kerja menjadi sorotan di Amerika Serikat (AS) pada 2025.

Fenomena ini terungkap dalam laporan Biro Statistik Tenaga Kerja AS yang dirilis 1 Agustus 2025.

Baca Juga: Dari Labubu hingga LEGO Langka, Beginilah Gen Z Menghadapi Krisis dengan Treatonomics

Sejak Januari 2025, tercatat 212.000 perempuan berusia 20 tahun ke atas meninggalkan pekerjaan mereka.

Penurunan paling signifikan terjadi pada kelompok perempuan berusia 25–44 tahun yang tinggal bersama anak di bawah lima tahun.

Misty Lee Heggeness, profesor ekonomi dan urusan publik di University of Kansas, menyebut tingkat partisipasi angkatan kerja kelompok ini turun hampir tiga poin persentase, dari 69,7 persen menjadi 66,9 persen.

Baca Juga: Kalah 38 Detik dari El Rumi, Jefri Nichol Kecewa dan Minta Maaf ke Penggemar

“Ini kemunduran besar,” kata Heggeness, dikutip TIME, Minggu, 10 Agustus 2025.

Heggeness menuturkan, tren ini berbanding terbalik dengan periode 2022 hingga awal 2025, ketika partisipasi kerja perempuan meningkat berkat kebijakan kerja fleksibel.

Namun, fleksibilitas tersebut mulai dicabut tahun ini.

Presiden AS Donald Trump memerintahkan pegawai federal kembali bekerja di kantor lima hari sepekan, meski banyak di antaranya sudah pindah jauh atau terbiasa bekerja jarak jauh.

Baca Juga: Sekum PGI Paparkan Poin Pembahasan dalam Rakernas PGIW/SAG

Kebijakan serupa diikuti perusahaan besar seperti Amazon dan JP Morgan.

Menurut Flex Index, proporsi perusahaan Fortune 500 yang mewajibkan kerja penuh di kantor naik dari 13 persen pada akhir 2024 menjadi 24 persen pada kuartal II 2025.

Julie Vogtman, Direktur Senior Pusat Hukum Perempuan Nasional di AS, menyebut dampak terbesarnya dialami perempuan berpendidikan sarjana.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Steve Vantax

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Seabad Maria Manaoag, Bersama Jutaan Umat

Rabu, 22 April 2026 | 22:31 WIB

Guru di Bojonegoro Lari ke Sekolah Demi Hemat BBM

Selasa, 31 Maret 2026 | 22:13 WIB
X