Mengapa Semana Santa Larantuka Bertahan Berabad-abad? Ini Peran Besar Kaum Awam

photo author
Steve Vantax, Pontianak Globe
- Senin, 24 Maret 2025 | 08:10 WIB
Sekretaris Komisi Kateketik Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), RD Fransiskus Emanuel da Santo (tengah) saat berdiskusi dengan pemerhati sejarah dan budaya Larantuka, Fransiskus Roi Lewar (kanan), dipandu oleh Raldy Doi (kiri). (Dok. Pontianak Globe)
Sekretaris Komisi Kateketik Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), RD Fransiskus Emanuel da Santo (tengah) saat berdiskusi dengan pemerhati sejarah dan budaya Larantuka, Fransiskus Roi Lewar (kanan), dipandu oleh Raldy Doi (kiri). (Dok. Pontianak Globe)

PONTIANAKGLOBE.COM, JAKARTA -- Tradisi Semana Santa di Larantuka tidak mungkin terlaksana tanpa peran kaum awam setempat.

Pemerhati sejarah dan budaya Larantuka, Fransiskus Roi Lewar, menjelaskan bahwa keberadaan Semana Santa di Larantuka tidak dapat dipisahkan dari peran umat awam, terutama Raja Larantuka beserta serikat awam Konfreria.

Baca Juga: Paus Umumkan 21 Kardinal Baru, Gambaran Universalitas Gereja Katolik Roma, Berikut Ini Daftar Lengkapnya

Menurutnya, Konfreria merupakan kelompok yang menjaga tradisi ini selama ratusan tahun, terutama ketika Larantuka tidak memiliki seorang imam yang menetap untuk memimpin umat.

Pada masa itu, para imam Portugis tidak memiliki jadwal tetap untuk mengunjungi Larantuka karena tekanan dari Belanda yang menguasai wilayah tersebut.

“Semana Santa bisa tetap eksis hingga saat ini karena karakteristik masyarakat Larantuka yang berbudaya pesisir, artinya mereka terbuka terhadap berbagai pengaruh. Sejak dahulu, Semana Santa merupakan hajatan raja yang kemudian diwariskan dan dipelihara oleh serikat Konfreria,” ujar Roi Lewar dalam diskusi bertajuk Mengenal Semana Santa Larantuka, yang ditayangkan di kanal YouTube Larantuka Heritage, Minggu, 23 Maret 2025.

Di masa lampau, lanjutnya, anggota Konfreria umumnya merupakan kaum cendekiawan yang mayoritas berprofesi sebagai guru.

Mereka memiliki kemampuan manajerial yang baik sehingga mampu mengorganisasi dan mempersiapkan Semana Santa sejak 40 hari sebelum pelaksanaannya.

Sekretaris Komisi Kateketik Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), RD Fransiskus Emanuel da Santo, menambahkan bahwa Semana Santa merupakan bentuk devosi mendalam umat Katolik kepada Bunda Maria, ibu Yesus, yang tidak terlepas dari perjalanan penderitaan Kristus.

Baca Juga: Rumput Stadion Utama Gelora Bung Karno Tak Terinjak-injak Meski Misa dengan Paus Dihadiri 87 Ribu Umat Katolik

Dalam Kitab Suci, dikisahkan bahwa Maria senantiasa mendampingi Yesus hingga ke tempat penyaliban di Bukit Golgota.

Ia menegaskan bahwa devosi ini bertahan selama ratusan tahun berkat peran berbagai pihak, mulai dari institusi Raja Larantuka hingga Gereja Katolik setempat, yang terus memastikan agar perayaan ini tetap hidup dan bermakna dalam perjalanan iman umat Katolik.

“Bahkan ketika tidak ada imam, iman umat tetap terjaga karena prosesi Semana Santa menjadi kekuatan penopang iman mereka. Kini, Semana Santa bukan hanya milik orang Larantuka, tetapi terbuka bagi siapa saja,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan bahwa prosesi Semana Santa terinspirasi dari Alkitab, yang tergambar dalam berbagai perlengkapan atau ornamento yang diarak pada prosesi Jumat Agung.

Misalnya, ukiran buah-buahan dari kayu melambangkan kejatuhan Adam dan Hawa yang tergoda untuk memakan buah pengetahuan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Steve Vantax

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X