Tiga Puluh Tahun Kemandirian Ordo Saudara Dina Kapusin Provinsi “Santa Maria Ratu Para Malaikat” Pontianak (1994-2024) 'Serial 1'

photo author
Jans Angkamor Bong, Pontianak Globe
- Selasa, 20 Agustus 2024 | 13:04 WIB
Pastor Bagara, OFMCap (2024)
Pastor Bagara, OFMCap (2024)

Selama masa jabatannya, dari November 1905 hingga Februari 1935, banyak energi dicurahkan untuk mendirikan sekolah-sekolah Belanda-Tionghoa dan kemudian sekolah-sekolah Inggris-Tionghoa di kota-kota besar sepanjang pesisir pantai sejauh dua ratus kilometer, yaitu di Singkawang, Pontianak, Pemangkat, dan Sambas.

Pada tahun 1905, ada sekitar 60.000 orang Tionghoa yang tinggal di seluruh Borneo Belanda.

Beberapa dari mereka, terutama yang telah menetap di Borneo sejak abad ke-18, telah kehilangan sebagian besar budaya dan agama Tionghoa asli mereka melalui perkawinan dengan orang Dayak.

Dalam beberapa dekade setelah tahun 1905, banyak kelompok orang Tionghoa kembali beremigrasi ke Kalimantan, sehingga pada tahun 1930 jumlah orang Tionghoa mencapai 12% dari populasi. Mereka termasuk dua kelompok bahasa dan budaya yang berbeda: Hakka dan Hoklo.

Untuk berhubungan dengan mereka, para misionaris pada awalnya harus bergantung sepenuhnya pada kemampuan bahasa asisten guru dan katekis Tionghoa, Tsang A. Kang, yang telah dididik oleh para pastor Jesuit.

Dia telah tinggal di Singkawang sejak 1895 dan memimpin ibadah Minggu di sana tanpa kehadiran seorang imam. (Bersambung...) 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Jans Angkamor Bong

Tags

Rekomendasi

Terkini

X