Tiga Puluh Tahun Kemandirian Ordo Saudara Dina Kapusin Provinsi “Santa Maria Ratu Para Malaikat” Pontianak (1994-2024) 'Serial 1'

photo author
Jans Angkamor Bong, Pontianak Globe
- Selasa, 20 Agustus 2024 | 13:04 WIB
Pastor Bagara, OFMCap (2024)
Pastor Bagara, OFMCap (2024)

Kapusin di Negeri Belanda

Menurut sumber yang dituliskan dalam website resmi Kapusin Pontianak, diterangkan bahwa dalam negeri Belanda, setelah tarik ulur dalam mengirim misionaris ke luar negeri Kapusin Belanda akhirnya menerima tawaran bermisi dan mendapat dukungan dari Propaganda Fide.

Pada 16 Oktober 1905, enam misionaris Kapusin pertama untuk Kalimantan berangkat dari Tilburg.

Mereka itu ialah: Pater Johannes Pacificus Bos van Uden (41 tahun); Pater Eugenius Adrianus F. van Disseldorp (30 tahun); Pater Beatus Joseph G. A. Baijens van Dennenburg (29 tahun); Pater Camilius Franciscus Buil van Pannerden (28 tahun); Bruder Wilhelmus Johannes Verhulst van Oosterhout (30 tahun); dan Bruder Theodoricus Wilhelmus van Lanen (31 tahun).

Dari Tilburg mereka pergi ke Marseille (sebuah kota pelabuhan yang terletak di pesisir Laut Mediterania di Prancis) dengan kereta api, dan dari sana naik kapal ke Singapura pada tanggal 20 Oktober.

Arsip Kapusin Pontianak (2024)
Arsip Kapusin Pontianak (2024)

Mereka menggunakan kapal “Cholon” sampai ke Singapura dan berganti kapal “Camphuys”, sebuah kapal dari perusahaan pelayaran Belanda Koninklijke Paketvaart-Maatschappij untuk me-lanjutkan perjalanan ke Batavia, di mana mereka tiba pada tanggal 20 November 1905.

Mereka tinggal beberapa hari di Batavia, di mana Mgr. E.S. Luypen SJ menerima mereka dengan sangat baik, sebelum melanjutkan perjalanan mereka ke Kalimantan. Empat dari mereka (Pacificus, Eugenius, Wilhelmus dan Theodoricus) tiba di Singkawang pada tanggal 30 November.

Dua orang lainnya tetap tinggal di Batavia untuk belajar bahasa Tionghoa dan India, dan tiba di Singkawang pada tanggal 23 Februari 1906. Namun, tidak satu pun dari mereka yang benar-benar siap untuk pekerjaan misi mereka.

Seperti yang pernah dikatakan oleh salah satu dari mereka, “Kami tiba di sana tanpa persiapan, tanpa pengetahuan teoritis tentang metode misi, dan sebagainya.” Mereka benar-benar harus mencari jalan dan meraba-raba dalam ketidakpastian.

Setelah berkonsultasi dengan imam Jesuit H. Schräder, diputuskan untuk terus melanjutkan kerasulan di antara orang Tionghoa di Singkawang dan melakukan karya misi di antara suku Dayak di Nanga Sejiram, serta mengembangkannya lebih lanjut jika memungkinkan.

Dua kelompok sasaran utama misi kapusin ini menjadi fokus perhatian sementara, meskipun, paling tidak bagi Pacificus Bos, misi kepada orang Tionghoa selalu mendapat perhatian paling besar.

Seperti yang ditulisnya dalam sebuah catatan tak lama sebelum pensiun pada tahun 1935:

“Kalimantan Barat adalah daerah dengan banyak orang Tionghoa. Unsur Tionghoa adalah penting dan selalu tetap murni sebagai orang Tionghoa meskipun mereka adalah pendatang.

Mereka adalah orang-orang yang rajin dan materialistis, tetapi juga sangat ingin belajar. Itulah sebabnya kita harus berusaha memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap mereka, terutama melalui sistem sekolah yang murni Tionghoa.”

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Jans Angkamor Bong

Tags

Rekomendasi

Terkini

X