‘Buatlah kami percaya, bahwa dalam keheningan dan diri yang mau diam itulah rahmat Tuhan akan datang berlimpah-limpah’.
‘Namun, seperti dirimu, kami juga ingin belajar, bahwa Tuhan tidak dapat kami paksa datang, semau kami’.
‘Kami harus sabar menanti, sampai Tuhan sendiri yang datang mengunjungi kami. Baru, bila kami tekun menanti Tuhan, hidup kita akan menjadi berarti.’
“Kasabarna manah kawula mawi wijining kasabaran angrantu, dhuh Ibu Maria, satemah gesang kawula mboten tanpa tanja, senajan kawula kepeksa ngalami gesang ingkang kadosipun muspra ing donya menika. Amin”
(Ajarilah kami sabar menanti, Bunda Maria, agar hidup kami tidak menjadi sia-sia. Meskipun, kami harus mengalami banyak kesia-siaan hidup di dunia ini. Amin)
Di akhir doanya, ibu berbisik lirih, ‘Ibu maria Perawan terpuji, pandanglah kami yang menyandang sedih, raga suma kami haus lapar, rindu akan jalan kebenaran, pulang pada kemuliaan sejati’.
Napasnya menyelinap di antara dua belas kali dentingan di malam yang sunyi.
* Leo Surisno
Green Silva, 29 April 2023
* Penulis adalah pensiunan dosen di FKIP Untan. Menyelesaikan program doktor di Monash University, Australia. Penerima Colombo Plant Scholarship