Sang Dokter (5): Nek A Chi

photo author
Steve Vantax, Pontianak Globe
- Jumat, 23 Desember 2022 | 16:11 WIB
Ilustrasi laut, cerita rakyat NTT, legenda Ol Oh di Sikka. (Quotev)
Ilustrasi laut, cerita rakyat NTT, legenda Ol Oh di Sikka. (Quotev)

Sudah sebulan aku ‘terdampar’ di sekitar Puskesmas kepulauan yang terluar dan terpencil ini. Dalam peta nasional tak akan tampak. Paling berupa titik-titik sebesar biji kacang hitam yang berserakan di laut Cina Selatan.

Kaki tangga biang lala belum juga muncul, walau pun sudah pukul sembilan.  

Sebaliknya, justru  tumbuh bunga kol raksasa, si cumulonimbus, yang siap menerkam burung-burung baja yang berani mamasuki kedaulatannya.

Kakinya kokoh tertancap di lautan Cina selatan.

Lidah-lidah petir  siap   menghanguskan  jaringan  listrik dalam tubuh  burung itu.

Demikian pula, serpihan-serpihan kristal  es beerkilau keperakan  siap membekukan  seluruh  tubuhnya dan menggulungnya untuk diceburkan di latu bebas.

Tiba-tiba, aku tergoda ingin mengunjungi Nenek Achi.

Ia tinggal di hulu sana, di sebuah lanting peninggalan suaminya.

Pada lereng tebing sungai, belakang lanting, jasad almarhum suami  di tanam.

Makam sangat terawat.

Berada di sebuah taman kecil 15x10 m.

Sederet bunga krisan melingkari petak makam.

Orang percaya bunga ini sebagai lambang kebahagiaan, kesetiaan dan suka cita.

Di depan batu nisan, terdapat kolam kecil dengan tanaman bunga lotus putih. Lotus putih melambangkan kejernihan pikiran dan kemurnian hati.

Lotus putih juga mengisyaratkan kesempurnaan spiritual.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Steve Vantax

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X