Matahari baru setinggi Pinggang. Bunga Telang (Clitoria ternatea) tengah berada di puncak keindahannya. Warna putih semburat merah menyeruak menggoda di kelilingi kelopak selendang biru lembayung yang lembut tenang. Rumpun bunga ini tumbuh bergerombol di antara bebatuan yang berada di sebelah kanan bawah sumber air di dekat posisiku pagi ini.
Dari penelusuran berbagai sumber literatur ternyata banyak manfaat bunga Telang ini bagi kesehatan. Penelusuran ini dipicu oleh kunjunganku ke Mbah Wardi, seorang transmigran tahun 60-an, di era Dwi Kora Presiden Sukarno.
Ooo, maaf, aku putus dulu cerita bunga Telang ini, ya. Di layar plasma langit sudah muncul perjalananku ketika mengunjungi Mbah Wardi, lima tahun yang lalu.
Sedang tayang ketika aku bersama seorang perawat lokal sedang menuju ke rumah mbah Sutarno di perkampungan transmigran yang berada di ujung luar pulau ini. Agak jauh, sekitar 20-an km dari Puskesmas. Nanti kita konfirmasi dengan speedometer setelah sampai di lokasi. Posisi saat ini berada 400.07 km.
Kondisi jalan cukup lumayan berat. Bebatuan alam memenuhi hampir seluruh bahu jalan. Ada di beberapa petak beraspal, tetapi justru bagian ini yang membahayakan ban, terutama bagi ban yang sudah tipis.
Kontur jalan berkelok-kelok, menanjak dan menurun mengikuti kondisi alam perbukitan batu. Tak terbayangkan bagaimana keadaan jalan ini sekitar 55 tahun yang lalu ketika para transmigran baru saja didatangkan. Mungkin, jalan ini justru belum ada sama sekali.
Pada saat speedometer menunkkan bilangan 425, kami memasuki kampung yang dituju, perkampungan Trans A. Saya merasa seperti sedang pulang ke desa di Sabtu sore sewaktu kuliah dulu.
Dari kejauhan sayub-sayub mengikuti kembusan angin, terdengar bunyi irama gamelan yang memancar dari Toa. Aroma sayur lodeh pun menyusup hidung. Membuat isi perut menggeliat.
Di kanan kiri jalan yang kami lewati berjajar rumah-rumah semen dengan halaman yang bersih dari rerumputan, dan tampaknya juga disapu pagi sore. Selain pohon belinjo, berbagai pohon buah-buahan seperti langsat, rambutan, nangka terlihat di setiap pekarangan. Tak terkecali rumpun sere serta kemangi. Di beberapa pekarangan, deretan pohon ubi kayu tertata rapi di kanan-kiri ‘lorong’ penghubung rumah dan jalan.
Tidak sulit menemukan rumah mbah Sutarno. Semua orang yang saya temui nengenalnya, bahkan anak-anak pun juga. Ketika kami berjalan menuju ke rumahnya, banyak anak-anak yang menemani kami. Mereka berceloceh membicarakan mbah Sutarno.
“Rumah Mbahno tak jauh dari sini, Dokter!” Kata salah seorang anak.
“Sana, Dokter!” kata anak yang lain sambil mengarahkan ibu jari kanannya ke suatu tempat.
“Mbahno, orangnya baik, Dokter” kata yang lain lagi.
“Benarkah?”
“Benar, Dokter. Biasanya Mbahno, jam segini, pulang dari pasar. Entah kok belum lewat”
Artikel Terkait
Sang Dokter (1): Terminal Terakhir
Sang Dokter (2): Siapa Aku ?
Sang Dokter (3): Di Puskesmas PTT
Sang Dokter (4): Hari Kartini
Sang Dokter (5): Nek A Chi