“Mbahno sakit!” Kata yang lain
“Dimana pasar?” Tanya perawat yang bersamaku.
“Ujung sana, Bu, perempatan pertama tadi belok kiri. Pasar di trans B sana” Kata anak tadi sambil memoncongkan bibir mengarah ke lokasi pasar.
“Kami tadi menunggu Mbahno. Ternyata malah panggil Dokter” Sela anak yang lain lagi.
“Kenapa kalian menunggu Mbahno?”
“Minta bagi oleh-oleh, Dokter. Mbah selalu bawakan oleh-oleh”
“Untuk kalian semua?!”
“Ya, Dokter!” Jawab mereka koor.
Sampai di rumah Mbah Sutarno, saya lihat banyak orang berkumpul. Beberapa orang sedang mengeluarkan meja kursi dari dalam rumah.
Seorang lelaki setengah baya mendekati saya. sambil menjabat tangan saya ia berkata, “Maaf, Dokter. Saya Manto. Ketua RT sini. Kami tadi es-em-es ke Puskesmas. Tetapi, katanya Dokter sudah ke luar sejam lalu. Karena itu, kami tidak lagi menghubungi Dokter. Tadi malam, sekitar pukul 02:00 Mbahno berpulang”
“Oohh, Saya tengok Simbah ya, Boleh?!” Ia menganguk.
Saya masuk ke dalam rumah. Jenasah Mbah Tarno terbaring di tengah ruang tamu, membujur arah utara-selatan, beralaskan tikar pandan. Di dekat kepala terpasang dua batang lilin yang belum dinyalakan. Salah satu di antaranya adalah lilin babtisnya.
Sambil menunggu acara pemakaman, kami, saya dan perawat yang mengantar saya, bergabung dengan para ibu pelayat. Mereka semua membicarakan apa yang telah dilakukan Mbah Tarno.
“Mbahno ini orang kuat dan baik hati, lho” kata seorang ibu setengah yang duduk di sebelah kiri saya. Lalu lanjutnya.
“Yu Jum ingat? Ketika kita masih kecil-kecil, tiap hari ia menggendong kelapa setenggok penuh dibawa ke pasar. Kita, setiap siang seperti ini siap-siap main di jalan. Menunggu oleh-olehnya”
Artikel Terkait
Sang Dokter (1): Terminal Terakhir
Sang Dokter (2): Siapa Aku ?
Sang Dokter (3): Di Puskesmas PTT
Sang Dokter (4): Hari Kartini
Sang Dokter (5): Nek A Chi