Jalan yang Hening

photo author
Steve Vantax, Pontianak Globe
- Kamis, 30 Mei 2024 | 18:34 WIB
Foto ilustrasi, suasana perkampungan yang damai.  (pexels.com/Ruben Sukatendel)
Foto ilustrasi, suasana perkampungan yang damai. (pexels.com/Ruben Sukatendel)

Dear Setyawati, anakku.

Dalam sebulan terakhir ini, ibumu ‘memaksakan diri’ untuk masuk kerja. Walau, sesunguhnya tubuhnya sangat lemah. Mandi dan berganti pakaian pun harus bapak bantu. Katanya, tak enak makan gaji tiap bulan tanpa kerja.

Bapak mengawani tiap hari, menggunakan jasa transfortasi online. Selain untuk membantu naik-turun kendaraan dan tangga rumah sakit, juga menjaga agar ibumu tidak merasa sendirian.

Baca Juga: Terungkap! Rahasia AC Mobil Tetap Dingin di Cuaca Panas

Di perjalanan, kami bercerita segala macam keadaan sehari-hari tidak terkecuali hal-hal yang berbau politik terkini. Di antaranya adalah pemilu yang kabarnya riuh-rendah.

Kami juga berbicara tentang sejumlah kawan yang dipanggil Tuhan di masa pandemi Covid-19 lalu. Termasuk kawan baik ibumu di FK dulu. Mereka adalah sepasang suami-istri dan kedua anaknya yang juga dokter. Keluarga ini ‘tumpes kelor’ di masa pandemi Covid-19.

Covid-19 memang tidak pilih-pilih. Siapa saja dapat dilibas. Kita bersyukur, walau ibumu harus isoman sampai empat kali selama masa pandemi, tetapi Tuhan masih mengijinkan meneruskan perjalanan hidup ini.

Suasana hati ibu tak dapat terbayangkan, saat itu. Hidup kost, suspect Covid-19. Sementara bapak dan abangmu di Yogya.

Syukur dan terima kasih kepada rekan sejawat serta staf RS yang selalu memantau perkembangan kesehatan ibumu.

Baca Juga: Jangan Sampai Terlewat! Libur Nasional dan Cuti Bersama di Juni 2024


Dear Setyawati, anakku.

Di malam hari, menjelang tidur, beberapa malam terakhir ini, ibumu minta diputarkan ‘gendhing-gendhing’ gamelan Jawa, khususnya gendheran. Katanya, mendengar irama gender, hatinya menjadi tenang dan damai.

Para penziarah rohani, mengatakan bunyi irama gender yang ning-neng-nung-nang itu mampu membuat hati menjadi tenang dan hening. Dalam keheningan hati itu, katanya, tumbuh suasana doa. Dan, dalam doa berkembang iman. Dalam iman ada pengharapan.

Di malam-malam seperti ini, ibumu mendaraskan Doa Penyerahan, dalam bahasa Jawa yang isinya seperti berikut ini.

‘Bunda Maria, Sang Sekar Melati, ajarilah kami berdoa rosario. Yakinkan kami bahwa doa rosario-mu, akan dapat mengheningkan dan mendiamkan diri kami.’

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Steve Vantax

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X