Membangun gedung ternyata jauh lebih mudah dibandingkan membangun kepercayaan masyarakat.
Pada masa itu, banyak keluarga Dayak masih khawatir menyekolahkan anak-anak mereka.
Baca Juga: Di Antara Hukum dan Keadilan, Membaca Ulang Kebebasan untuk Mengkritik
Sebagian takut terhadap ancaman dari Kesultanan Sambas, sementara sebagian lainnya sangat bergantung pada tenaga anak-anak untuk membantu bekerja di ladang.
Akibatnya, hingga memasuki dekade 1920-an jumlah murid tidak pernah lebih dari sekitar 25 orang.
Tidak sedikit pula anak-anak yang sudah masuk sekolah memilih kembali ke kampung. Mereka belum terbiasa dengan kehidupan berasrama dan aturan disiplin.
Bahkan, ketika pastor datang menjemput, ada yang bersembunyi agar tidak dibawa kembali ke sekolah.
Namun, para misionaris tidak menyerah.
Dengan kesabaran dan pendekatan yang penuh perhatian, mereka terus meyakinkan masyarakat bahwa pendidikan merupakan bekal berharga bagi masa depan anak-anak mereka.
Perjuangan yang dimulai dari pondok sederhana di tengah hutan itu akhirnya membuahkan hasil.
Nyarumkop berkembang menjadi salah satu pusat pendidikan Katolik terpenting di Kalimantan Barat dan melahirkan banyak tokoh yang mengabdikan diri bagi Gereja maupun masyarakat luas.
Sejarah Nyarumkop mengingatkan bahwa setiap lembaga besar selalu berawal dari langkah-langkah kecil, dari keberanian membuka jalan di tengah belantara, dan dari keyakinan bahwa pendidikan adalah investasi terbaik bagi masa depan. ***