Pada 3 September 1916, bersama Bruder Timoteus, ia tiba di kawasan yang ketika itu masih berupa hutan lebat.
Setibanya di Nyarumkop, keduanya terlebih dahulu mendirikan pondok sederhana sebagai tempat tinggal.
Baca Juga: Karhutla di Rasau Jaya Umum Bergeser Dekati Permukiman, Tim Gabungan Terus Lakukan Pemadaman
Setelah itu, mereka mulai membangun sekolah.
Pohon-pohon di hutan ditebang dan langsung digunakan sebagai tiang bangunan.
Dinding dibuat dari anyaman bambu, sedangkan atap menggunakan daun sagu. Bangku-bangku belajar pun dibuat dari batang kayu yang baru ditebang.
Dari sinilah lahir sebuah kisah yang hingga kini terus dikenang.
Karena kayu yang digunakan masih hidup, beberapa waktu kemudian tiang-tiang sekolah dan kaki bangku mengeluarkan tunas serta daun-daun muda.
Bangunan sekolah itu seolah hidup bersama alam yang mengelilinginya, menjadi simbol bahwa pendidikan mulai bertumbuh dari tengah belantara.
Berdirinya Pastoran Pertama
Upaya membangun Nyarumkop terus berlanjut.
Pada 1917, Pater Marcellus membeli beberapa ekor sapi beserta keretanya.
Dari daerah Patengahan, ia membeli sebuah rumah kayu yang kemudian dibongkar dan diangkut ke Nyarumkop.
Material rumah tersebut digunakan untuk membangun pastoran sekaligus rumah ibadat pertama di Nyarumkop.
Bangunan itu kemudian menjadi pusat pelayanan misi dan bertahan hingga tahun 1959.
Artikel Terkait
SMA Santo Paulus Nyarumkop Singkawang Bersiap Hadapi Tahun Pelajaran 2023/2024, Gelar IHT Kurikulum Merdeka
Rangkul Alumni, SMP St Aloysius Gonzaga Nyarumkop Rayakan Pesta Santo Pelindung
Nostalgia Santap Bubur Temu Kangen SMP Aloysius Gonzaga Nyarumkop
Warga Nyarumkop di Singkawang Keluhkan Penerangan Jalan Gelap Gulita dan Rawan Kecelakaan
Mgr Agustinus Peletakkan Batu Pertama Rumah Istirahat Uskup Emeritus Keuskupan Agung Pontianak di Nyarumkop
Pemulihan Rohani di Rumah Pensiun Pastor dan Uskup Emeritus di Nyarumkop, Uskup Mimpikan Buah-buahan Kampung