pontianak-insights

Lahirnya Persekolahan Katolik Nyarumkop, Ketika Hutan Belantara Menjadi Taman Pendidikan

Minggu, 28 Juni 2026 | 11:11 WIB
Pastor Marcellus dan Kepala Distrik Nyarumkop (Dok. Arsip Kapusin Pontianak)

Pada 3 September 1916, bersama Bruder Timoteus, ia tiba di kawasan yang ketika itu masih berupa hutan lebat.

Setibanya di Nyarumkop, keduanya terlebih dahulu mendirikan pondok sederhana sebagai tempat tinggal.

Baca Juga: Karhutla di Rasau Jaya Umum Bergeser Dekati Permukiman, Tim Gabungan Terus Lakukan Pemadaman

Setelah itu, mereka mulai membangun sekolah.

Pohon-pohon di hutan ditebang dan langsung digunakan sebagai tiang bangunan.

Dinding dibuat dari anyaman bambu, sedangkan atap menggunakan daun sagu. Bangku-bangku belajar pun dibuat dari batang kayu yang baru ditebang.

Dari sinilah lahir sebuah kisah yang hingga kini terus dikenang.

Karena kayu yang digunakan masih hidup, beberapa waktu kemudian tiang-tiang sekolah dan kaki bangku mengeluarkan tunas serta daun-daun muda.

Bangunan sekolah itu seolah hidup bersama alam yang mengelilinginya, menjadi simbol bahwa pendidikan mulai bertumbuh dari tengah belantara.

Berdirinya Pastoran Pertama

Upaya membangun Nyarumkop terus berlanjut.

Pada 1917, Pater Marcellus membeli beberapa ekor sapi beserta keretanya.

Dari daerah Patengahan, ia membeli sebuah rumah kayu yang kemudian dibongkar dan diangkut ke Nyarumkop.

Material rumah tersebut digunakan untuk membangun pastoran sekaligus rumah ibadat pertama di Nyarumkop.

Bangunan itu kemudian menjadi pusat pelayanan misi dan bertahan hingga tahun 1959.

Halaman:

Tags

Terkini