PONTIANAKGLOBE:COM; PONTIANAK -- Di timur Kota Singkawang, berdiri sebuah kompleks pendidikan yang telah menjadi bagian penting dari sejarah Gereja Katolik di Kalimantan Barat.
Kompleks Persekolahan Katolik Nyarumkop bukan sekadar tempat belajar, melainkan buah dari perjuangan panjang para misionaris yang berani membuka hutan demi menghadirkan pendidikan bagi masyarakat pedalaman.
Baca Juga: Menembus Belantara Nyarumkop, dari Hutan Rimba Lahir Mercusuar Pendidikan Katolik di Kalimantan
Lahirnya Nyarumkop berawal dari sebuah peristiwa yang tak terduga.
Pada 1911, sekolah dan asrama Katolik di Kampung Pelanjau, yang terletak di hulu Sungai Sebangkau, sekitar 10 kilometer dari Singkawang, roboh.
Pada waktu yang hampir bersamaan, wabah penyakit melanda kawasan tersebut.
Dua anak penghuni asrama meninggal dunia, sementara penghuni lainnya meninggalkan tempat itu demi menyelamatkan diri.
Peristiwa tersebut mendorong Misi Katolik mencari lokasi baru yang lebih layak untuk melanjutkan karya pendidikan.
Baca Juga: Pacificus Bos, 'Van Lith dari Kalimantan' yang Menyalakan Terang Iman dari Pontianak
Tugas itu dipercayakan kepada seorang misionaris Kapusin asal Belanda, Pater Marcellus OFM Cap, yang kemudian dikenal sebagai salah satu perintis penting karya misi di Kalimantan Barat.
Seorang Perintis yang Tak Pernah Berhenti Membuka Jalan
Rekan-rekan seangkatannya mengenang Pater Marcellus sebagai sosok pekerja keras yang mengabdikan seluruh hidupnya bagi pelayanan.
Ia dikenal sederhana, tidak banyak menuntut untuk dirinya sendiri, dan selalu mencari cara agar masyarakat di tempat pelayanannya dapat berkembang.
Ketika sebuah stasi dianggap telah mandiri, ia tidak ragu menyerahkan pengelolaannya kepada imam lain, lalu berangkat membuka daerah misi yang baru.
Semangat sebagai perintis itulah yang membawanya ke sebuah kampung Dayak bernama Nyarumkop.